Minggu, 04 Agustus 2013

Difference Begin and End

Nice Guy emang drama lama dan emang udah lama pengen aku tonton, tapi karena berbagai alasan baru kesampean beberapa hari yang lalu :D


Seperti biasa, abis nonton drama yang udah ngerebut perhatianku, gatel rasanya kalo nggak ngeresensi ngomentarin unek-unek yang menggebu-gebu pengen dilepas dari sangkarnya. Hehe :p Maklum, nggak ada temen penggila drama yang bisa aku tumpahin unek-unek, soalnya pada sibuk ngurusin persiapan jadi mahasiswa baru (cieee).

Awalnya aku tertarik nonton Nice Guy yang pertama karena aktor utamanya. Siapa lagi yang pas meranin cowok dengan daya pikat tinggi, kalo bukan Song Joong Ki (applause!). Yang kedua karena pengen liat aktingnya. Dan yang ketiga pengen mandangin dia. Wkwkwk, sori agak over. Hehe.

Song Joong Ki as Kang Ma Roo

Tapi percaya deh, semakin kesini banyak alasan yang bikin aku langsung 'meneguk' habis ke-20 episodenya dalam waktu 3-4 hari. Salah satunya adalah pemeran sampingannya, Lee Kwang Soo yang juga ikut melengkapi drama bergenre melodrama, romance ini. Karena image-nya di Running Man yang kocak dan terbully, jadinya aku memandangnya dengan cara yang sama di drama ini. Tiap dia muncul, apapun yang dia lakukan dalam aktingnya, aku nggak kuasa menahan tawa, entah kenapa. Dan dia lucu aja dipasangin sama Lee Yoo Bi.
Lee Kwang Soo as Park Jae Gil
Lee Yoo Bi as Kang Cho Co
Selain itu karena jalan ceritanya. Setiap drama pasti punya jalan cerita yang unik dan selalu mau tampil beda, nggak terkecuali sama Nice Guy. Di episode awal Nice Guy sudah berhasil mencuri perhatianku. Dari mulai watak dan penokohannya, konfliknya, apalagi pemainnya. Keadaan hidup yang begitu keras bagi kedua belah pihak, Kang Ma Roo dan Seo Eun Gi, membuat aku tertantang untuk mengikutinya.

 













Tapi jujur aja nih, di drama ini aku lebih suka bagian depannya daripada pertengahan menuju akhir dan ending-nya, mau itu karakter atau pun jalan ceritanya. Aku nggak suka Kang Ma Roo yang lemah. Aku lebih suka perannya di awal, walaupun (agak) licik, tapi meyakinkan, cool dan... fresh (lho?!). Aku juga nggak suka Seo Eun Gi yang 'lembek' setelah mengalami kecelakaan dan amnesia. Terlalu polos kalo dibandingin dengan Seo Eun Gi di episode awal. Padahal karakternya diawal cerita (strong women, nggak mudah nyerah, keras kepala tapi cerdas), pas dan TOP banget diperanin sama Moon Chae Won.

Transformation Between Them
Karena pemeran utamanya beberapa kali bertransformasi, otomatis alur ceritanya ikutan berubah. Alurnya jadi sulit ditebak dan diakhir terkesan maksa. Aku sempet mikir, kenapa nggak ditambahin aja episodenya? Soalnya gantungnya bukan kayak drama-drama lain yang kebanyakan emang suka gantung. Tapi ini gantungnya maksa banget. Soalnya (menurutku yaa) makin ke belakang, alurnya bertele-tele dan karakternya udah nggak sekuat yang diawal. Jadi diakhirnya terasa terlalu cepet dan masih menyisakan tanda tanya. Waaah, sayang banget emang.

Okay, ini cuma opiniku pribadi ya, yang hatiku sendiri emang nggak menentu dalam mengartikan sesuatu (assaaa :p). Over all, para pemain, kru, dan tim produksinya udah pada kerja keras banget tuh. Buktinya ratingnya bisa mencapai lebih dari 15% (stand applause!!!). Sukses terus deh buat Song Joong Ki ganteng, dan yang lainnya. Fighting!!! :D


Rabu, 17 Juli 2013

Only God Knews

Kalau dulu begitu, sekarang belum tentu bisa begitu.

Kalau sekarang begini, dulu tak'kan pernah bisa berubah jadi begini.


Haruskah aku bertanya:
"Kemana semangatku yang dulu?" tentang ingin mencapai sesuatu yang besar, yang diharapkan 2 orang terkasih dan keluarga besar.
Atau harus seperti inikah aku bertanya:
"Kenapa mereka tidak menyerah?" tentang peluang kecilku memenuhi harapan mereka, kedua orangtua dan keluargaku.

Kalau sudah begini, apa yang sanggup kulakukan?
Menolak, karena sekarang, disini aku sudah sejauh ini, dan kemudian terus melangkah?
Atau haruskah aku melompat ke liku lain yang hanya Allah yang tau ujungnya?

Jalan mana yang harus kuambil?
Aku bahkan tak mampu memikirkannya. Rasanya berat dan tak berujung.
Aku bahkan sempat berpikir, "Kalau hidup selalu seperti ini, bolehkah aku mengakhirinya lebih cepat?"
#galau
#istighfar
#istighfar
#istighfar

Thanks to Allah...

Terima kasih atas cobaan hidup ini...

Ini membuatku menjadi manusia yang lebih kuat ke depannya.
Menguatkan aku dalam menghadapi cobaan hidup yang lain, yang datang bertubi-tubi dan tak'kan kunjung habis hingga ajal menjemput.

Dari ini aku mendapat banyak pelajaran. Bahwa kalimat "jangan membuang sia-sia waktumu" memang benar-benar merasuk dan harus selalu kau terapkan dimanapun untuk menghindari penyesalan. Bahwa kesulitan pasti ada kemudahan, karena kegagalan bukan berarti dunia berhenti sampai disitu. Dan bahwa selain Allah SWT, tak ada yang lebih mengetahui dirimu, kerja keras, usaha, dan doamu melainkan dirimu sendiri. Ini semua bukan sekadar kalimat munafik. Karena aku sama sekali tidak ingin jadi orang munafik di mata Allah SWT. Kalimat-kalimat ini langsung meluncur dari hatiku yang telah mengalaminya sendiri. Sungguh pengalaman yang sangat berharga.

Aku tidak tau kapan lagi aku akan menemui pengalaman seberharga ini. Yang jelas ini baru awal. Awal dari jutaan pengalaman berharga lain yang akan kutemui kelak. Sungguh, hidup memang seperti ini. Semua suka, duka, tawa, tangis akan kita lalui cepat atau lambat dan berlangsung sepanjang hidup ini, akan terus bergulir seiring berotasinya bumi, seirama dengan alunan detak jantung. Yang harus kita lakukan adalah terus berjalan ke depan dan hadapi kenyataan. Karena kita tak mamppu berjalan mundur dan kita tidak dapat menolak kenyataan yang berada di depan mata.

Memang hidup penuh pilihan. Sebagai manusia yang berakal budi kita harus bijaksana dalam menentukan jalan mana yang harus kita tapaki. Ketika sebuah masalah/cobaan dihidangkan di piring kehidupan kita, pilihan kita hanyalah menghindari 'makanan' tersebut, atau melahapnya dan bertanggung jawab mencuci bersih 'makanan' tersebut. Yang harus kita lakukan dalam menghadapi masalah/cobaan adalah tenang, sabar, dan percaya. Percayalah bahwa Tuhan selalu bersamamu dan segala peristiwa telah menjadi kehendaknya.

Rabu, 03 Juli 2013

Bikin Ngais Tanah!

Yuhuu..

Akhirnya selesai nonton K-drama Gu Family Book!!! ^^


http://airens357.blogspot.com/2013/05/free-download-drama-gu-family-book.html
http://top-drama.blogspot.com/search/label/Gu%20Family%20Book
karena ini drama pertama yang aku tonton dari hasil download-anku sendiri (maklum, biasanya tinggal co-pas dari laptop temen :p). Haha, suatu kebanggaan tersendiri bagiku :D

Tapi temen-temen, begitu menyelesaikan episode 24, episode terakhir dari Gu Family Book, aku nggak tau harus seneng atau sedih. Senengnya sih karena aku akhirnya bisa ngebuktiin omongan temenku yang bilang kalo drama ini WAJIB ditonton, dan memang TOP BANGET! Tapi sedihnyaaaa, aku masih pengen berada di dalam 'ombang-ambing' kehidupan Gu Family Book :' Ini ngebuktiin kalo drama ini emang MANTEP BANGET buat ngisi kekosonganmu. Soalnya bagiku drama yang bagus itu adalah drama yang akan membawamu LARUT dalam kisahnya, dan saat menikmatinya menimbulkan rasa "NGGAK PENGEN BERAKHIR", tapi PENASARAN dengan episode selanjutnya.

Ya, itulah Gu Family Book, dan ya, itulah yang aku rasain. Awalnya yang membuat aku tertarik nonton adalah pemainnya. Siapa lagi kalo bukan...
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPSOI5Q-9ZKD2zF2jG17aqwFOgGrQTWp2SH3M-DF8UkS2e4Dt2DqVwriXK5ZBvCZ_YsQ-wKeLm0YlJpYamN4tD_gwN5C6HpFGe91sejjUmxYwD_kZ3QB-EHd5REApG47jdFzV7SD6aJI8-/s1600/Suzy+miss+A+Gu+Family+Book+Dam+Yeo+Wool+GIF.gif
Bae Suzy as Dam Yeo Wool
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE4GQ_HpmcAcz7DB4Cu74t3K1OED3R91eyTjgZXux0nLwVvrkkMZ2saM9FXXuPp8WWufcsbUhl887xQM-aGo-l6PrvS2bZ5RlSkNluJjK-6U2ryHPW-63s7iQfu8_Aa8vg0TLoh98LPp4/s1600/eea31_gu-family-book-03.jpg
Lee Seung Gi as Choi Kang Chi















Yep, aktor imut yang satu ini udah nggak bisa diraguin lagi aktingnya. Duet bareng siapa aja cucoklaa. Dan entah kenapa perannya selalu cocok sama dia. Suzy juga nggak kalah keren, dia mampu ngimbangin Seung Gi dan melengkapi drama yang juga punya rating tinggi ini. Dari pembukaannya aja, temen-temen bakal tertarik ngikutinnya. Dan perasaan itu terus berlanjut bahkan setelah kalian selesai me'lahap'nya. Pokoknya dijamin NGGAK NGEBOSENIN. Soalnya Gu Family Book ini mengangkat cerita yang belum pernah ada di drama lain. Begitu kamu masuk dalam 'buaiannya', perasaanmu akan ikut terombang-ambing dan senantiasa ikut berdebar di tengah konflik-konflik yang terjadi. So, pastikan dirimu menikmatinya :)

Oyaa, nggak ketinggalan sama OST-nya yang duuuh, NYENTUH bangeeet dan bikin merindiing. Mendukung bangetlah sama sikon yang sedang berlangsung. Selain Suzy yang mengisi single "Don't Forget Me", Lee Seung Gi juga nggak mau kalah menyumbang salah satu soundtrack berjudul "That Last One Word"

Banyak kenangan tak terlupakan dari drama ini, dari masa kecil mereka yang lucu, Kang Chi yang sering menghitung 1 sampai 3 sebelum melakukan suatu tindakan, pertemuan di saat bulan sabit berada di atas pohon kersik yang membawa pada nasib yang mengahrukan, Kang Chi yang berpendirian teguh pada apa yang menjadi keinginannya, Kang Chi yang selalu ingin melindungi orang yang ia cintai, Hiks :’ Secara tersirat drama ini juga menyatakan pada kita bahwa hewan atau makhluk mitos seperti Gumiho aja bisa memiliki kesetiaan yang kuat pada yang mereka cintai, masa manusia nggak bisa? Gumiho aja bisa ngendaliin diri mereka demi orang yang mereka cinta, masa kita nggak bisa?


http://img22.imageshack.us/img22/6451/69959184.jpg

http://4.bp.blogspot.com/-6PNJwodZmX0/UYCBuxwyQ9I/AAAAAAAAVjI/SfBYByGHN38/s1600/Gu+Family+Book+Episode+8+(RAW).jpg



Dan memang lain daripada drama-drama yang pernah aku tonton, ending K-drama emang selalu gantung, tapi drama yang satu ini gantungnya mellow beuut :’ Emang ke-mellow­-an ini harusnya udah bisa dirasain dari awal, tapi aku yang emang nggak suka mellow ini menolaknya mentah-mentah sebelum menyaksikannya sendiri. Dan pada akhirnya aku galau sendiri. Waaa :" Tapi penulis skenarionya kayaknya nggak mau buat penontonnya kecewa karena nggalau, jadi ditambahin sedikit kisah (yang menurutku malah bikin gantung =.=)

Haaah, semoga Gu Family Book fever-ku ini segera menyebar, biar aku nggak galau sendiri :’ Maklum teman-teman, aku baru banget selesai nonton jadi agak kehilangan. Bukan berarti drama ini sepenuhnya mellow yaa, inga-inga ;) Banyak komedi n dipenuhi keromantisan, nikmatin aja, ciyus deh :D 

Rabu, 26 Juni 2013

Seperti Kejatuhan DURIan (PART II)

Kejadiannya cepat sekali, jadi aku tidak tau sejak kapan helmku terlepas dari tempatnya. Rambutku juga tiba-tiba tergerai, lepas dari ikatannya yang hilang entah kemana. Setengah sadar, aku dan motorku dibawa ke pinggir jalan. Kerumunan orang pun semakin menjadi-jadi. Masih belum menyadari apa yang terjadi, lidahku otomatis mengeluarkan kata maaf pada seorang pemuda yang sepertinya ‘beradu’ denganku tadi. Percakapan singkat pun terjadi.
Seseorang        : Adik berapa umurnya?
Yang Mengelus Kepala (YMK) : 17 tahun, pak
Seseorang        : Pantes, masih labil.
YMK       : (Grrrrr!)
Polisi        : Gak papa-gak papa, yang penting kaliannya kan baik-baik aja. Masalah motor kan gampang. Daripada dibawa lebih jauh, nyari siapa yang salah, siapa yang bener, malah ribet. Sekarang terserah kalian, mau gimana.
Orang-orang: Ya, damai aja, damai aja.

Diikuti anggukan kepala, kita pun bersalaman, tanda perdamaian.
Polisi        : Nah, kan enak damai. Udadah suud. Ini kalian sama-sama single kan?
Pemuda    : (mengangguk-angguk semangat)
YMK       : (iiuuuh banget ni pak polisi)
Polisi        : Ya, kan bisa sekalian tukeran nomer hape.
YMK       : =.=’

Selain mengelus-elus kepala yang benjol dan menatap kosong ke arah motorku yang ringsek, nggak ada yang bisa kuperbuat. Bangun dari lamunan, baru sadar harus mengabari orang rumah. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, berulang kali mencoba menelepon Mama, tapi nggak diangkat, sibuk. Baru menelepon Kak Yudis sekali, langsung diangkat.

Nggak bisa tinggal diam, aku mencoba melajukan motorku. Mesinnya sih mau nyala, tapi setangnya nggak bisa dibelokkan. Mau bawa ke bengkel, tapi nggak terlihat ada bengkel terdekat. Akhirnya pasrah dan menunggu Kak Yudis dalam keheningan antara aku dan si pemuda -yang juga sibuk menghubungi entah siapa- di hiruk pikuk jalan besar yang sibuk. Sambil (masih) mengelus kepala, terus mencoba menghubungi Mama sampai akhirnya diangkat.

Beberapa lama kemudian, akhirnya mobil Mama dan Bapak tiba di TKP. Setelah Mama memberitahu bengkel terdekat, Bapak menggiring motorku yang ringsek. Dan sebelum menyusul Bapak, tak lupa Mama menanyakan keadaan si pemuda tadi. Dengan kata maaf terakhir dariku, aku dan Mama pergi meninggalkan TKP. Sepanjang jalan aku dinasihati habis-habisan. Kak Yudis tiba beberapa menit setelah kami berada di bengkel.

Huffft. Hari yang berat. Tadi pagi sebenarnya aku sudah ada bad feeling tentang kecelakaan ini. Nggak nyangka benar-benar kejadian. Aku merasa sial sekali mengalami semua ini :’ Di tengah kesungguhanku mempersiapkan SBMPTN, ada saja cobaan yang melemahkan pertahananku. Ketika keesokan harinya aku terbangun dan berdoa, aku tidak mampu lagi menahan air mata yang mendesak keluar membanjiri wajahku. Bukan karena memar yang ada disekujur tubuhku, tapi karena cobaan hidup yang begitu berat :””” Aku nggak tau apa aku sanggup melaluinya :””” Begitu banyak yang kupendam dan kupikirkan, tapi yang dapat kuluapkan hanya air mata yang tak terbendung lagi :’ Semoga ada hikmah dibalik semua ini.


Selasa, 25 Juni 2013

Seperti Kejatuhan DURIan (PART I)

Suatu hari di siang yang terik, tepatnya hari Rabu, 5 Juni 2013.

 

Karena nggak lulus SNMPTN, rutinitas baru pun aku jalani untuk persiapan SBMPTN. Tapi, hari itu ada sesuatu yang tak terduga terjadi...

 

Suatu penyesalan tersendiri bagiku untuk membiarkan diriku menjadi pengangguran tak berguna selama menanti pengumuman SNMPTN. Karena satu kata maaf tak terlupakan (baca "It's Just Started :')") telah mengubah jalan hidupku. Seharusnya aku tak membuang waktu dengan percuma selama menunggu pengumuman. Seharusnya aku ikut les di suatu tempat untuk persiapan SBMPTN. Seharusnya aku tidak terlalu percaya diri bahwa aku akan lulus SNMPTN. Seharusnya aku mengikuti kata kedua orang tuaku untuk tidak memilih universitas di luar pulau. Seharusnya, seharusnya, seharusnya... :"

Aku tidak bisa terus menggalau dan menyesali diri. Aku harus cepat-cepat mengendalikan perasaan dan emosi, meninggalkan  kegalauan dan semua penyesalan yang telah kubuat, karena waktuku untuk mempersiapkan SBMPTN tidak lebih dari 3 minggu sementara teman-teman yang lain sudah mempersiapkannya sebulan yang lalu. Hari-hari setelah pengumuman, aku gencar meminjam soal-soal SBMPTN dari berbagai tempat les dan dari teman-temanku yang baik hati :')

Beberapa hari kemudian aku mengikuti langkah temanku yang juga baru mempersiapkan SBMPTN untuk les di bimbel 'tiiiiiiit'. Tak butuh waktu lama untuk aku menyesuaikan diri kembali pada tumpukan lembaran soal dan buku-buku kumpulan soal. Kali ini aku bersungguh-sungguh dan tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya, sehingga dengan lahapnya aku 'memakan' soal-soal yang ada dihadapanku.

Suatu hari, setelah keluar dari tempat les, aku dan temanku -sebut saja Ida- saling berpamitan karena arah rumah kita berbeda. "Dada, Ida. Hati-hati ya, da," sahutku sambil setengah bercanda. "Hati-hati, da," Kata-kata itu terus meluncur di lidahku. Ida pun melajukan motornya lebih dulu. Aku baru saja akan menyeberang ketika sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku. Tabrakan pun tak terelakkan.
~Bersambung...

Kamis, 20 Juni 2013

It's Just Started :')

Hari itu, seakan dunia berhenti berputar...

 

Aku berharap dunia berhenti sampai disitu. Yaitu ketika sebuah kata tak terlupakan muncul di situs resmi SNMPTN. Mungkin bagi sebagian orang kalimatku ini terlalu lebay alias hiperbola. Tapi, inilah yang benar-benar kurasakan.

 

Sore itu (27/05), hari dimana SNMPTN yang sangat dinanti ratusan ribu siswa SMA/SMK se-Indonesia akan diumumkan. Selama kurang lebih 1 bulan aku menganggur dan menunggu momen ini. Aku membiasakan diri untuk berpikir positif dalam hal apapun, jadi nggak ada feeling sama sekali untuk apa yang akan terjadi (dalam hal ini hasil SNMPTN). Beberapa jam sebelum pengumuman, aku (mencoba untuk) nggak merasa tertekan apalagi nervous. Untuk itu aku menenangkan diri dengan memutar kembali k-drama "The Moon Embracing the Sun". Yah, sekedar bersantai dan meyakinkan diri bahwa hasilnya akan sesuai harapan.

Sebenarnya tepat pukul 17.00 pengumuman sudah bisa diakses. Tapi aku sengaja mengulur waktu beberapa menit agar nggak terlalu terliat terburu-buru. Dengan percaya diri dan tanpa sepengetahuan orang tua, aku mulai mengetik situs resmi SNMPTN, membaca basmalah, dan membuka akunku...
Jleb! Nancep!

Seakan satu kata MAAF telah menghancurkan segala harapan dan penantianku selama ini :"""""" Aku hanya mampu mencurahkan segala yang terpikirkan dengan batinku sendiri.
Aku dan batinku: "Aku baru mengerti, ternyata hidup seperti ini. Terkadang begitu menyakitkan. Dan terlalu berat untuk ditapaki."
Di saat itu pula aku harus menerima kenyataan bahwa yang selama ini kunanti hanyalah kata MAAF. Aku menyia-nyiakan waktuku hanya untuk keterpurukan :"""""""

Seiring berjalannya waktu, emosiku mulai stabil dan ketika itu pula aku bisa lebih bijaksana menghadapi hidup.
Aku dan batinku: "Mungkin Allah berencana lain. Atau memang seperti inilah jalan hidupku. Penuh liku.Yang harus kulakukan adalah menjalaninya dengan sungguh-sungguh apapun yang akan terjadi nanti. [Aku tau memaksakan kehendak dan terlalu berambisi akan menyakitkan hati jika pada akhirnya tidak berjalan sesuai harapan (kata negative thinkingku)]. [Tapi tak ada yang dapat kuperbuat selain berpikir positif, bersungguh-sungguh, dan memohon (kata positive thinkingku)]. Dan yang kuinginkan adalah agar kesungguhanku ini tidak sia-sia dan akan memuaskan diri sendiri, membanggakan orang tua dan keluarga. Amin."

Pantang Menyerah
Insya Allah seleksi kali ini, tidak muncul kata MAAF dan sejenisnya. Aku yakin bisa melaluinya atas seizin Allah. Aku berjuang denganNya, gagal tanpaNya, dan menang karenaNya. Dan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perjuangan :')

Kamis, 07 Februari 2013

Bukan Lelucon

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 30 Januari 2013, mama beli kucing persia medium warna putih...

Udah dari tahun lalu (Desember 2012) mama 'ngidam' pengen punya kucing putih salju dengan tambahan: hidungnya harus pesek. Setelah berkelana mencari kucing yang sesuai dengan kriteria di relasi dokter hewan, akhirnya dapet 1. Dan setelah nego dan janjian via sms, aku sama mama ke rumah si penjual kucing itu.

Singkat cerita, ternyata kucing (yang sesuai dengan kriteria, tapi tidak dengan tambahan) punya jamur di bagian ekor. Jelas aja mama kecewa berat. Masalah dong, masa baru umur 2 atau 3 bulan dah jamuran. Iyuuh. Yaudah, kita lepas deh, tuh kucing jamuran.

Nggak mau nyerah gitu aja, mama nyari relasi dokter hewan yang laen. Dan suatu 'keberuntungan' bagi mama dapet target kucing idamannya. Tapi mama mesti sabar soalnya kucingnya masih netek so nunggu lagi kurang lebih 1 bulanan gitu.

Jadilah tanggal 30 Januari 2013 (setelah divaksin sama pemiliknya yang kebetulan juga dokter hewan), kucing idaman mama berhasil kebeli -walau gak sesuai harapan karena hidungnya agak mancung-. Dan sama dengan kasus sebelumnya, lagi-lagi sekeluarga rebutan ngasi nama buat si bayi kucing ini. Dengan perdebatan yang sengit, akhirnya nama standar, si Putih jadi nama resminya. Cuma aku aja yang manggil dia Pussy --"

Dengan tidak melupakan piaraan yang laen, si Katy Pesek alhamdulillah masih hidup lo. Aku mencoba mengakurkan mereka. Biar akrab gitu. Kalo lagi diem-dieman, aku tempelin si Pussy ke teteknya Katy. Kali aja Katy mau netekin :p

Pas mereka lagi akrab -Katy jilat-jilatin Pussy, layaknya ibu dan anak kucing- itu rasanya, bahagiaaa banget. Kayak abis nyatuin keluarga yang udah lama terpisah gitu deh.

Katy dan Pussy lagi penjilatan

Hari-hari mereka dipenuhi dengan malu-malu kucing. Yah, karena mereka emang kucing. Kadang Katy cemburu dengan kehadiran Pussy yang gak ada pemberitahuan ke dia sebelumnya. Jadinya kita sebagai pemiliknya kan bingung. Mau main sama Pussy, eh Katy jealous, mau main sama Katy, kan kasian sama Pussy yang pendatang baru :( Ditambah, mereka gak mau main bareng gitu lo. Gengsinya sama-sama tinggi.

TAPI, kelucuan, kebersamaan, malu-malu kucing, jealous, dan gengsi ini gak bisa bertahan lama. H-1 seminggu Pussy dirumahku, nyawanya sudah ditarik oleh Allah SWT. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un :" Pussy sayang, memang nggak jodoh tinggal sama kita. Dia punya tempat yang lebih sempurna di dunia lain :' Kasian mama, akhirnya beliau trauma beli bayi kucing. Keinginannya punya kucing persia putih salju mungkin hanya keinginan sesaat aja. Walau gak nyampe seminggu, tapi kenangan dari dia udah ngecap dihati.

Si Pussy yang malang :'(