Rabu, 26 Juni 2013

Seperti Kejatuhan DURIan (PART II)

Kejadiannya cepat sekali, jadi aku tidak tau sejak kapan helmku terlepas dari tempatnya. Rambutku juga tiba-tiba tergerai, lepas dari ikatannya yang hilang entah kemana. Setengah sadar, aku dan motorku dibawa ke pinggir jalan. Kerumunan orang pun semakin menjadi-jadi. Masih belum menyadari apa yang terjadi, lidahku otomatis mengeluarkan kata maaf pada seorang pemuda yang sepertinya ‘beradu’ denganku tadi. Percakapan singkat pun terjadi.
Seseorang        : Adik berapa umurnya?
Yang Mengelus Kepala (YMK) : 17 tahun, pak
Seseorang        : Pantes, masih labil.
YMK       : (Grrrrr!)
Polisi        : Gak papa-gak papa, yang penting kaliannya kan baik-baik aja. Masalah motor kan gampang. Daripada dibawa lebih jauh, nyari siapa yang salah, siapa yang bener, malah ribet. Sekarang terserah kalian, mau gimana.
Orang-orang: Ya, damai aja, damai aja.

Diikuti anggukan kepala, kita pun bersalaman, tanda perdamaian.
Polisi        : Nah, kan enak damai. Udadah suud. Ini kalian sama-sama single kan?
Pemuda    : (mengangguk-angguk semangat)
YMK       : (iiuuuh banget ni pak polisi)
Polisi        : Ya, kan bisa sekalian tukeran nomer hape.
YMK       : =.=’

Selain mengelus-elus kepala yang benjol dan menatap kosong ke arah motorku yang ringsek, nggak ada yang bisa kuperbuat. Bangun dari lamunan, baru sadar harus mengabari orang rumah. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, berulang kali mencoba menelepon Mama, tapi nggak diangkat, sibuk. Baru menelepon Kak Yudis sekali, langsung diangkat.

Nggak bisa tinggal diam, aku mencoba melajukan motorku. Mesinnya sih mau nyala, tapi setangnya nggak bisa dibelokkan. Mau bawa ke bengkel, tapi nggak terlihat ada bengkel terdekat. Akhirnya pasrah dan menunggu Kak Yudis dalam keheningan antara aku dan si pemuda -yang juga sibuk menghubungi entah siapa- di hiruk pikuk jalan besar yang sibuk. Sambil (masih) mengelus kepala, terus mencoba menghubungi Mama sampai akhirnya diangkat.

Beberapa lama kemudian, akhirnya mobil Mama dan Bapak tiba di TKP. Setelah Mama memberitahu bengkel terdekat, Bapak menggiring motorku yang ringsek. Dan sebelum menyusul Bapak, tak lupa Mama menanyakan keadaan si pemuda tadi. Dengan kata maaf terakhir dariku, aku dan Mama pergi meninggalkan TKP. Sepanjang jalan aku dinasihati habis-habisan. Kak Yudis tiba beberapa menit setelah kami berada di bengkel.

Huffft. Hari yang berat. Tadi pagi sebenarnya aku sudah ada bad feeling tentang kecelakaan ini. Nggak nyangka benar-benar kejadian. Aku merasa sial sekali mengalami semua ini :’ Di tengah kesungguhanku mempersiapkan SBMPTN, ada saja cobaan yang melemahkan pertahananku. Ketika keesokan harinya aku terbangun dan berdoa, aku tidak mampu lagi menahan air mata yang mendesak keluar membanjiri wajahku. Bukan karena memar yang ada disekujur tubuhku, tapi karena cobaan hidup yang begitu berat :””” Aku nggak tau apa aku sanggup melaluinya :””” Begitu banyak yang kupendam dan kupikirkan, tapi yang dapat kuluapkan hanya air mata yang tak terbendung lagi :’ Semoga ada hikmah dibalik semua ini.


Selasa, 25 Juni 2013

Seperti Kejatuhan DURIan (PART I)

Suatu hari di siang yang terik, tepatnya hari Rabu, 5 Juni 2013.

 

Karena nggak lulus SNMPTN, rutinitas baru pun aku jalani untuk persiapan SBMPTN. Tapi, hari itu ada sesuatu yang tak terduga terjadi...

 

Suatu penyesalan tersendiri bagiku untuk membiarkan diriku menjadi pengangguran tak berguna selama menanti pengumuman SNMPTN. Karena satu kata maaf tak terlupakan (baca "It's Just Started :')") telah mengubah jalan hidupku. Seharusnya aku tak membuang waktu dengan percuma selama menunggu pengumuman. Seharusnya aku ikut les di suatu tempat untuk persiapan SBMPTN. Seharusnya aku tidak terlalu percaya diri bahwa aku akan lulus SNMPTN. Seharusnya aku mengikuti kata kedua orang tuaku untuk tidak memilih universitas di luar pulau. Seharusnya, seharusnya, seharusnya... :"

Aku tidak bisa terus menggalau dan menyesali diri. Aku harus cepat-cepat mengendalikan perasaan dan emosi, meninggalkan  kegalauan dan semua penyesalan yang telah kubuat, karena waktuku untuk mempersiapkan SBMPTN tidak lebih dari 3 minggu sementara teman-teman yang lain sudah mempersiapkannya sebulan yang lalu. Hari-hari setelah pengumuman, aku gencar meminjam soal-soal SBMPTN dari berbagai tempat les dan dari teman-temanku yang baik hati :')

Beberapa hari kemudian aku mengikuti langkah temanku yang juga baru mempersiapkan SBMPTN untuk les di bimbel 'tiiiiiiit'. Tak butuh waktu lama untuk aku menyesuaikan diri kembali pada tumpukan lembaran soal dan buku-buku kumpulan soal. Kali ini aku bersungguh-sungguh dan tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya, sehingga dengan lahapnya aku 'memakan' soal-soal yang ada dihadapanku.

Suatu hari, setelah keluar dari tempat les, aku dan temanku -sebut saja Ida- saling berpamitan karena arah rumah kita berbeda. "Dada, Ida. Hati-hati ya, da," sahutku sambil setengah bercanda. "Hati-hati, da," Kata-kata itu terus meluncur di lidahku. Ida pun melajukan motornya lebih dulu. Aku baru saja akan menyeberang ketika sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku. Tabrakan pun tak terelakkan.
~Bersambung...

Kamis, 20 Juni 2013

It's Just Started :')

Hari itu, seakan dunia berhenti berputar...

 

Aku berharap dunia berhenti sampai disitu. Yaitu ketika sebuah kata tak terlupakan muncul di situs resmi SNMPTN. Mungkin bagi sebagian orang kalimatku ini terlalu lebay alias hiperbola. Tapi, inilah yang benar-benar kurasakan.

 

Sore itu (27/05), hari dimana SNMPTN yang sangat dinanti ratusan ribu siswa SMA/SMK se-Indonesia akan diumumkan. Selama kurang lebih 1 bulan aku menganggur dan menunggu momen ini. Aku membiasakan diri untuk berpikir positif dalam hal apapun, jadi nggak ada feeling sama sekali untuk apa yang akan terjadi (dalam hal ini hasil SNMPTN). Beberapa jam sebelum pengumuman, aku (mencoba untuk) nggak merasa tertekan apalagi nervous. Untuk itu aku menenangkan diri dengan memutar kembali k-drama "The Moon Embracing the Sun". Yah, sekedar bersantai dan meyakinkan diri bahwa hasilnya akan sesuai harapan.

Sebenarnya tepat pukul 17.00 pengumuman sudah bisa diakses. Tapi aku sengaja mengulur waktu beberapa menit agar nggak terlalu terliat terburu-buru. Dengan percaya diri dan tanpa sepengetahuan orang tua, aku mulai mengetik situs resmi SNMPTN, membaca basmalah, dan membuka akunku...
Jleb! Nancep!

Seakan satu kata MAAF telah menghancurkan segala harapan dan penantianku selama ini :"""""" Aku hanya mampu mencurahkan segala yang terpikirkan dengan batinku sendiri.
Aku dan batinku: "Aku baru mengerti, ternyata hidup seperti ini. Terkadang begitu menyakitkan. Dan terlalu berat untuk ditapaki."
Di saat itu pula aku harus menerima kenyataan bahwa yang selama ini kunanti hanyalah kata MAAF. Aku menyia-nyiakan waktuku hanya untuk keterpurukan :"""""""

Seiring berjalannya waktu, emosiku mulai stabil dan ketika itu pula aku bisa lebih bijaksana menghadapi hidup.
Aku dan batinku: "Mungkin Allah berencana lain. Atau memang seperti inilah jalan hidupku. Penuh liku.Yang harus kulakukan adalah menjalaninya dengan sungguh-sungguh apapun yang akan terjadi nanti. [Aku tau memaksakan kehendak dan terlalu berambisi akan menyakitkan hati jika pada akhirnya tidak berjalan sesuai harapan (kata negative thinkingku)]. [Tapi tak ada yang dapat kuperbuat selain berpikir positif, bersungguh-sungguh, dan memohon (kata positive thinkingku)]. Dan yang kuinginkan adalah agar kesungguhanku ini tidak sia-sia dan akan memuaskan diri sendiri, membanggakan orang tua dan keluarga. Amin."

Pantang Menyerah
Insya Allah seleksi kali ini, tidak muncul kata MAAF dan sejenisnya. Aku yakin bisa melaluinya atas seizin Allah. Aku berjuang denganNya, gagal tanpaNya, dan menang karenaNya. Dan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perjuangan :')