Jumat, 16 September 2011

One Day of Three

Di suatu sore yang indah, siswa-siswi SMA tiiiit berhamburan keluar sekolah seusai menunaikan sebuah ritual bernama: yoga. Salah satu siswi (kalian boleh menganggap itu aku), lekas menjilati jalan raya -dengan ban sepeda motornya tentu saja- menuju ke rumah Neneknya yang berada di kawasan Sudirman. Niatnya, ia hanya mampir sebentar untuk mengambil barang yang ia titipkan disana, dan langsung pulang ke rumahnya.
Seperti biasa, entah ini kebiasaan atau sesuatu yang tidak sengaja selau terjadi, siswi ini mengendarai motornya bak “anak racing yang pengen menang taruhan”.
Di tengah indahnya sore dan liukan motor yang asik, tak dinyana ada seorang ibu dengan sebilah motornya yang ingin menyeberang dari arah kiri dan (sepertinya) akan menuju ke arah kanan. Siswi ini pun terkejut, dan ‘!@#$%^&*(’
Entah dosa apa yang telah dibuat olehnya ataupun Ibu yang Mau Menyeberang (IMM) tersebut, mereka berdua jatuh tersungkur (di tanah dan dengan motor masing-masing pastinya).
“Hadoh, ibunya ini lho!” dumel siswi ini tanpa pikir siapa yang salah, siapa yang benar.
Di pinggirkanlah motornya ke sisi jalan. Dan satu hal yang paling dibencinya adalah: ‘penonton’ peristiwa kecelakaan.
“Adeknya ini lho ngebut sekali!”, “Saya mau nyeberang dicari!”, “Pasti nggak punya SIM ya?!”, “Suami saya polisi, lho!” itulah serentetan celoteh yang keluar dari mulut IMM lebih dari 3 kali.
Dan siswi ini hanya bisa menjawab: “Ia, bu,”, “Maaf, bu,”, “Ia, saya dah yang salah, bu,”, “Kasian orang tua saya. Jangan dilaporin ya, bu,”, dengan muka pucat, mata berkaca-kaca dan p.a.s.r.a.h.
IMM hanya membalas dengan celotehan yang sama dan dengan tambahan: “Ia, ia, kalo maaf tu saya gampang aja. Tapi gimana ni?” protesnya sambil nunjuk ke lututnya yang lecet segaris dan spionnya yang udah copot. “Adek yang salah, tapi nggak mau disalahin,” kata IMM yang bikin siswi itu jadi kesel juga. Padahal dia udah bilang “Ia, saya dah yang salah, bu,” berulang-ulang kali sampe mulut berbusa dan air mata berlinang.
Beberapa saat kemudian, siswi ini baru berusaha mengingat kembali kronologi awal terjadinya ‘kejadian itu’. Ia mengingat-ingat sambil berbicara kepada siapapun yang mendengarnya. “Tadi tu saya udah ngerem, bu! Beneran. Beneran. Beneran. Dari jauh saya dah ngeliat ada ibu mau nyeberang, beneran deh saya udah ngerem, bu! Ya Allah!”
Sepertinya semua saksi mata atau ‘penonton’ peristiwa kecelakaan yang tersisa mendukung bahwa IMM adalah orang yang bersalah dalam peristiwa ini. Mereka berusaha menenangkan siswi ini dan meyakinkan sekali lagi bahwa dirinya tidak bersalah.
“Udah, tenang, dik. Orang ibunya itu yang salah. Kan ini jalurnya adik,” begitulah kata salah satu dari mereka.
Akhirnya setelah semua (termasuk IMM) mendukung untuk menelepon orang tua, siswi ini mengambil handphonenya dan segera menelepon Omnya yang satu rumah dengan Neneknya.
“Om, cepet ke Yangbatu. Sekarang ya, Om!” ceroscosnya tanpa basa-basi.
“Kenapa? Ada apa?” jawabnya setelah mendengar suara isakan tangis siswi ini.
“Ya, pokoknya cepet kesini,”
Mungkin siswi ini bingung apa lagi yang harus ia lakukan untuk ‘menebus kesalahannya’. Dan IMM juga sepertinya bingung mau meminta dan menuntut apa lagi setelah siswi ini mengatakan tidak membawa kartu pelajar dan mengatakan ia adalah siswa SMA tiiiit. Dari gerak-geriknya, sepertinya IMM akan segera meninggalkan TKP lebih dulu daripada siswi ini. Dan sebelum IMM pergi, siswi ini memohon untuk kesekian kalinya;
“Bu, maafin saya ya. Saya dah yang salah, bu. Ibu maafin saya neee,” rengek siswi ini dengan isakan tangis, linangan air mata, dan muka pucat.
“Ia, ia,” jawab IMM singkat dan dengan raut muka yang ikut terpengaruh siswi ini.
“Ooo, tapi mukanya ibu masih nggak ikhlas kayaknya. Maafin ne, bu,” desak siswi ini lagi.
“Ia, ibu maafin,”
“Ikhlas, bu?”
“Ia, ia, ikhlas,”
Dan dengan begitu pula, siswi ini mengikhlaskan ibu itu pergi melanjutkan perjalanannya. Selang beberapa detik kemudian Om dari siswi ini tiba dengan pakaian tenisnya. Ia dan saksi mata atau ‘penonton’ peristiwa kecelakaan yang tersisa menceritakan kronologi dari peristiwa itu. Om dari siswi ini pun menukarkan motornya dengan motor keponakannya, karena motor siswi itu bannya pecah dan stang motornya bengkok.

Sampai dengan detik ini, siswi itu belum menyampaikan apa yang terjadi kepada kedua orangtuanya maupun saudara-saudaranya. Apa yang seharusnya ia lakukan? Jujur atau berbohong demi kebaikan? Karena kejadian seperti ini bukan yang pertama terjadi selama 3 tahun terakhir. Yah, mari ‘kita’ doakan semoga peristiwa kali ini adalah peristiwa yang terakhir seumur hidupnya. AMIN!!!!!!!!

Lagu Daerah :)

Sajojo

Sajojo, sajojo
Yumanampo misa papa
Samuna muna muna keke
Samuna muna muna keke

Sajojo, sajojo
Yumanampo misa papa
Samuna muna muna keke
Samuna muna muna keke

Kuserai, kusaserai rai rai rai rai
Kuserai, kusaserai rai rai rai rai

Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye
Inamgo mikim ye
pia sore, piasa sore ye ye

Minggu, 11 September 2011

Home Alone (Part II)


*lanjutan*
Ngacir lah aku ke dalem, nelpon mama pake telpon rumah, nelpon bapak pake hape pada saat yang bersamaan. Eee, malah hapeku mati dengan sendirinya *ngajak duel!*. Dan dasar kampret, telponku nggak di angkat sama 2 sejoli itu. PANIK tingkat DEWA dah toe.
Dengan langkah poyok, aku balik lagi ke pager.
"hapenya masih nggak di angkat lho. Gimana ni, mau nunggu?"
"ya, tunggu aja dah"
Jong.. Jeng.. entah ni pilihan yang keliru atau salah (lho? sama aja ya?), akhirnya aku (p.a.s.r.a.h) bukain mereka pintu N nyuruh duduk di ruang tamu. *mulai dah negative thinking menyelimutiku*,
::Adoh, apa yang harus aku lakuin kalo misalnya mereka cuma pura-pura jadi mahasiswa, trus ternyata maling yang mau hipnotis, atau blablabla.. ::
Hapenya mba’ Sari pun tak jadiin korban buat ngubungin bapak, gara-gara hape ku yang nggak mau nurut ama majikannya di saat-saat kayak gini.
Mpe akhirnya (karena mama N bapak ada di tempat yang sama N dengan alesan hapenya ketinggalan di mobil), aku dapet ngomong ama mama lewat hapenya bapak.
"Ma, daritadi tak telponin knapa nggak diangkat? ni ada mahasiswa di rumah. Mama ada janjian ama mahasiswa nggak?” ceroscosku meluapkan emosi.
“Hapenya mama ketinggalan di mobil. Mama nggak ada janjian ama mahasiswa,” jawab mama santé.
::Wadooh, makin nggak enak aja ni perasaan::
“Trus ni siapa, tiga orang mahasiswa S2 nyariin tanda tangannya mama????”
“Iyeeh, mama nggak ada janjian sama siapa-siapa!” kata mama kesel.
Saat itu juga, aku baru inget, kalo tadi aku sempet nanya ke tiga orang itu, dan mereka memang nggak buat janji sebelumnya sama mama. Dan dengan malu aku bilang:
“Oya, ma. Emang dah nggak janjian katanya. Dah mama aja yang ngomong ama mereka, ya?!” jawabku seadanya.
Langsung dah tak kasih hapenya mba’ Sari ke salah satu dari mereka. Ngomong dah toe. Bener-bener pasrah aku pas itu. Antara percaya N nggak percaya ama ‘tiga orang tak dikenal’ itu.
Akhirnya, mereka mutusin untuk nitip yang mau di tanda tanganin ke aku. ::GILA banget! Kayaknya dari awal aku dah nawarin buat nitipin aja ke aku!! Pada akhirnya kan mereka nitip juga ama aku!! Dasar kepreeet!! Arrrghh :@
Beberapa detik setelah mereka pulang,
“Brum… brum…” si kunyuk kak yudis baru dateng.
::bak diolaaasss!! Daritadi kek dateng orang satu ni! Ish! Emosi jiwa!!::
Sejak itu, (hiks.. hiks..) aku nggak yakin dah kalo ditinggal di rumah sendirian. Rasanya pengen kabur aja. N semoga kalian dapet hikmah dari kisahku ini. Amanat:: jangan sekali-sekali niru adegan ini! Yang bener:: jangan mudah percaya ama orang asing yang nggak kamu kenal. Cukup aku aja yang ngerasain ini. Wokeeh :)

Home Alone (Part I)


Seperti pada umumnya, tiap bulan kaum hawa dianugerahkan ‘tanggal merah’. Bulan Ramadhan, hari itu (22 Agustus 2011), aku kebetulan lagi dapet ‘tanggal merah’ itu. Sore menjelang malam, mama ama bapak pergi kondangan, kak Yudis lagi futsal atau apalah, kak Kresna seperti biasa menjalankan rutinitasnya yang gaje (kayak kelelawar yang cuma keluar di malam hari), N’ mba’ Sari lagi solat traweh di deket rumah. Karena aku sebagai penjaga rumah yang baek, ku kunci semua pintu dan resmilah aku: HOME ALONE!!!
Cepet-cepet aku ngacir ke kamarku (nglanjutin belajar). Ngerasa nggak enak (entah apa yang bikin nggak enak), aku langsung ngunci pintu kamar. Pikiranku mulai nggak fokus ke buku yang ada di hadapanku, telingaku berubah peka dengan sekeliling rumahku (tepatnya di luar kamarku). Suasana N semua suara yang ku tangkep jadi salah satu alasan kenapa aku tiba-tiba jadi kebelet pipis (suasananya mendukung banget ya!!)
Setelah mencoba bertahan (dari HIV-Hasrat Ingin Vivis), akhirnya sampe pada klimaks: “Klenteng… Klenteng… Klenteng…” bunyi bel rumahku 3 kali. ::Haduh… Siapa sih ngalih gae malem-malem gini. Gak tau apa suasananya lagi kayak gini:: batinku.
Dengan penuh rasa (sok) berani, aku pun melangkah, buka kamar (meyakinkan diri, bilang: gada apa-apa, santai dinda!), trus buka pintu dapur, N (just) NENGOK dari balik pager. ::Parah! Mau apa gerangan 3 orang bapak-bapak muda bertampang nggak meyakinkan itu ke rumahku malem-malem gini. Terjadilah sebuah percakapan:
"nyari siapa ya?"
"nyari ibunya, ada? kita mahasiswa S2" kata salah 1 dari mereka
"ibunya lagi keluar lho.. udah janjian?"
"belum, dari tadi udah tak telpon, tapi nggak di angkat"
"mau nitip aja nggak?"
"ini mau minta tanda tanganya"
Hadeh, kayaknya mereka nggak denger apa yang ku tanyain, smpe-smpe pertanyaan terakhirku di jawab dengan agak sedikit nggak nyambung.. Mungkin karena antara aku ama 3 orang toe masih terpisah pager (pagernya sama sekali nggak tak buka lho), jadi mungkin nggak denger jelas. Aku jadi gaena juga kalo misalnya mereka toe orang baek-baek. :|
"Oo, gitu. Yauda, coba tak telpon dulu ibunya ya"
"ya.."
Aku biarin dah mereka jadi sapi ompong di depan rumahku tanpa ada niatan sedikit pun nawarin mereka masuk. ::ngga, enak juga sih, tapi buat jaga-jagalah. Semoga mereka ngerti. huhuhu :’( ::
*bersambung*

KimiAjah


Pembahasan:
Berdasarkan hasil pengamatan diatas, suhu akuades setelah dikurangi suhu ruangan adalah 26oC. Kemudian suhu akuades setelah dilarutkan dengan serbuk Na OH meningkat menjadi 33oC. Begitu pula yang terjadi pada reaksi ketiga ke reaksi keempat. Suhu akuades setelah dicampur dengan urea (CO(NH2)2) adalah 23,5OC. Kemudian larutan urea tersebut ditambah dengan serbuk arang dan mengalami kenaikan suhu menjadi 24OC.

Kesimpulan:
Kita dapat menenentukan suatu reaksi merupakan reaksi eksoterm atau reaksi endoterm dengan melihat perubahan suhu yang dialaminya sebelum dan sesudah dilarutkan. Jika perubahan suhu suatu reaksi meningkat, maka yang terjadi adalah pelepasan kalor dari sistem menuju lingkungan yang disebut dengan reaksi eksoterm. Jika suatu reaksi mengalami penurunan suhu, maka yang terjadi adalah penyerapan kalor dari lingkungan menuju sistem yang disebut dengan reaksi endoterm.