Di suatu sore yang indah, siswa-siswi SMA tiiiit berhamburan keluar sekolah seusai menunaikan sebuah ritual bernama: yoga. Salah satu siswi (kalian boleh menganggap itu aku), lekas menjilati jalan raya -dengan ban sepeda motornya tentu saja- menuju ke rumah Neneknya yang berada di kawasan Sudirman. Niatnya, ia hanya mampir sebentar untuk mengambil barang yang ia titipkan disana, dan langsung pulang ke rumahnya.
Seperti biasa, entah ini kebiasaan atau sesuatu yang tidak sengaja selau terjadi, siswi ini mengendarai motornya bak “anak racing yang pengen menang taruhan”.
Di tengah indahnya sore dan liukan motor yang asik, tak dinyana ada seorang ibu dengan sebilah motornya yang ingin menyeberang dari arah kiri dan (sepertinya) akan menuju ke arah kanan. Siswi ini pun terkejut, dan ‘!@#$%^&*(’
Entah dosa apa yang telah dibuat olehnya ataupun Ibu yang Mau Menyeberang (IMM) tersebut, mereka berdua jatuh tersungkur (di tanah dan dengan motor masing-masing pastinya).
“Hadoh, ibunya ini lho!” dumel siswi ini tanpa pikir siapa yang salah, siapa yang benar.
Di pinggirkanlah motornya ke sisi jalan. Dan satu hal yang paling dibencinya adalah: ‘penonton’ peristiwa kecelakaan.
“Adeknya ini lho ngebut sekali!”, “Saya mau nyeberang dicari!”, “Pasti nggak punya SIM ya?!”, “Suami saya polisi, lho!” itulah serentetan celoteh yang keluar dari mulut IMM lebih dari 3 kali.
Dan siswi ini hanya bisa menjawab: “Ia, bu,”, “Maaf, bu,”, “Ia, saya dah yang salah, bu,”, “Kasian orang tua saya. Jangan dilaporin ya, bu,”, dengan muka pucat, mata berkaca-kaca dan p.a.s.r.a.h.
IMM hanya membalas dengan celotehan yang sama dan dengan tambahan: “Ia, ia, kalo maaf tu saya gampang aja. Tapi gimana ni?” protesnya sambil nunjuk ke lututnya yang lecet segaris dan spionnya yang udah copot. “Adek yang salah, tapi nggak mau disalahin,” kata IMM yang bikin siswi itu jadi kesel juga. Padahal dia udah bilang “Ia, saya dah yang salah, bu,” berulang-ulang kali sampe mulut berbusa dan air mata berlinang.
Beberapa saat kemudian, siswi ini baru berusaha mengingat kembali kronologi awal terjadinya ‘kejadian itu’. Ia mengingat-ingat sambil berbicara kepada siapapun yang mendengarnya. “Tadi tu saya udah ngerem, bu! Beneran. Beneran. Beneran. Dari jauh saya dah ngeliat ada ibu mau nyeberang, beneran deh saya udah ngerem, bu! Ya Allah!”
Sepertinya semua saksi mata atau ‘penonton’ peristiwa kecelakaan yang tersisa mendukung bahwa IMM adalah orang yang bersalah dalam peristiwa ini. Mereka berusaha menenangkan siswi ini dan meyakinkan sekali lagi bahwa dirinya tidak bersalah.
“Udah, tenang, dik. Orang ibunya itu yang salah. Kan ini jalurnya adik,” begitulah kata salah satu dari mereka.
Akhirnya setelah semua (termasuk IMM) mendukung untuk menelepon orang tua, siswi ini mengambil handphonenya dan segera menelepon Omnya yang satu rumah dengan Neneknya.
“Om, cepet ke Yangbatu. Sekarang ya, Om!” ceroscosnya tanpa basa-basi.
“Kenapa? Ada apa?” jawabnya setelah mendengar suara isakan tangis siswi ini.
“Ya, pokoknya cepet kesini,”
Mungkin siswi ini bingung apa lagi yang harus ia lakukan untuk ‘menebus kesalahannya’. Dan IMM juga sepertinya bingung mau meminta dan menuntut apa lagi setelah siswi ini mengatakan tidak membawa kartu pelajar dan mengatakan ia adalah siswa SMA tiiiit. Dari gerak-geriknya, sepertinya IMM akan segera meninggalkan TKP lebih dulu daripada siswi ini. Dan sebelum IMM pergi, siswi ini memohon untuk kesekian kalinya;
“Bu, maafin saya ya. Saya dah yang salah, bu. Ibu maafin saya neee,” rengek siswi ini dengan isakan tangis, linangan air mata, dan muka pucat.
“Ia, ia,” jawab IMM singkat dan dengan raut muka yang ikut terpengaruh siswi ini.
“Ooo, tapi mukanya ibu masih nggak ikhlas kayaknya. Maafin ne, bu,” desak siswi ini lagi.
“Ia, ibu maafin,”
“Ikhlas, bu?”
“Ia, ia, ikhlas,”
Dan dengan begitu pula, siswi ini mengikhlaskan ibu itu pergi melanjutkan perjalanannya. Selang beberapa detik kemudian Om dari siswi ini tiba dengan pakaian tenisnya. Ia dan saksi mata atau ‘penonton’ peristiwa kecelakaan yang tersisa menceritakan kronologi dari peristiwa itu. Om dari siswi ini pun menukarkan motornya dengan motor keponakannya, karena motor siswi itu bannya pecah dan stang motornya bengkok.
Sampai dengan detik ini, siswi itu belum menyampaikan apa yang terjadi kepada kedua orangtuanya maupun saudara-saudaranya. Apa yang seharusnya ia lakukan? Jujur atau berbohong demi kebaikan? Karena kejadian seperti ini bukan yang pertama terjadi selama 3 tahun terakhir. Yah, mari ‘kita’ doakan semoga peristiwa kali ini adalah peristiwa yang terakhir seumur hidupnya. AMIN!!!!!!!!