Minggu, 07 Oktober 2012

PANIK BERUJUNG DUSTA



Oleh: Dinda Pradnya Paramitha Paturusi


Tepat pukul 09.00 WITA, deringan telepon salah satu kediaman Perumahan Ramai Permai no. 34 memecah kesunyian pagi itu.
“Ya, selamat pagi,” Suara bass seorang pemuda membalas salam dari seberang telepon.
“Apa benar ini kediaman ibu Asrini?” Tanya seorang bapak di seberang telepon.
“Ya,” jawab pemuda itu cepat.
“Benarkah ada putrinya yang bernama Anila Kirana Devi siswa kelas XII SMA Abadi Nusantara?”
“Benar, ada apa, Pak?”
“Saya dengan Pak Made, gurunya. Anila baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang ia masih tidak sadarkan diri di ruang UGD Rumah Sakit Manila,”
Tidak ada jawaban. Pak Made memberikan nomor telepon genggamnya. Pemuda itu mencatat nomor tersebut layaknya penderita Parkinson dan segera menutup telepon.
“Dista, telepon dari siapa itu?” Tanya Mbak Min Ah dari lantai dua pada pemuda itu.
“Dari gurunya Anila. Katanya dia kecelakaan, sekarang lagi di UGD Rumah Sakit Manila,” kata Dista rapuh.
Mbak Min Ah adalah mbak yang mengasuh Anila sejak usianya 6 bulan. Sudah dapat ditebak jika Mbak Min Ah yang mendengarnya langsung lemas tak berdaya. Segala urusan rumah yang sedang dan belum dikerjakannya segera ditinggalkan. Semua keluarga dekat Anila dihubunginya, termasuk ibu Anila yang sedang berada dalam sebuah rapat di kantornya. Kemudian ia bergegas mengajak Dista ke rumah sakit tersebut. Dista yang biasanya super lelet menjadi Dista yang penuh kepanikan. Mereka pun berangkat dengan tergesa-gesa dan penuh kepanikan.
Setibanya di area parkir RS Manila, perasaan Mbak Min Ah semakin tak karuan saja. Tiba-tiba Om Marun, salah seorang kerabat Anila menelepon Mbak Min Ah.
“Mbak, sudah dimana? Cepat kesini! Saya lagi di depan ambulance,” ceroscos Om Marun yang terdengar tak kalah panik.
Mendengar kata ambulance, kaki Mbak Min Ah seakan lumpuh. Seakan-akan kata itu menjadi palu yang memecah dunianya menjadi butiran debu.
“Mana Anila, Om?” Tanya Dista dan Mbak Min Ah serempak ketika mereka sudah berdiri di belakang ambulance yang dimaksud Om Marun.
“Saya sudah tanya, nggak ada pasien kecelakaan yang namanya Anila di UGD. Coba kamu cari ke sekolahnya, Dis!” ungkap Om Marun yang berusaha untuk tetap tenang.
Kekhawatiran Mbak Min Ah pun tampak berkurang, meski masih dirundung ketidakpastian. Dan sekali lagi Dista bergegas menuju SMA tempat Anila bersekolah. Setibanya di SMA Abadi Nusantara, jam pelajaran sedang berlangsung. Dista yang kebetulan mengetahui kelas Anila meminta pada petugas sekolah untuk memanggilkan Anila. Tak lama kemudian, muncul sosok Anila yang berlarian menemui Dista.
“Ada apa, kak Dista? Anila lagi ngerjain soal matematika yang mau dikumpul nih,” buru Anila yang masih ngos-ngosan.
“Yah, semua pada ke Rumah Sakit Manila, ‘pasien’nya malah disini,” cerita Dista singkat.
“Ngapain ke Manila?”
“Tadi aku ditelepon katanya Anila kecelakaan, terus…”
“Aduduh, nggak bener tu. Ganggu banget deh. Udah pulang sana!” potongnya sambil berlari kembali menuju kelasnya.
Dengan raut wajah masam, Dista kembali ke RS Manila dengan membawa kabar terkini mengenai peristiwa yang telah berhasil membuat satu keluarga besar berada dalam kondisi terombang-ambing.
“Mana Anila, Dis?” sambut Mbak Min Ah penasaran.
“Pasiennya lagi asik belajar tuh di sekolah,” canda Dista mencairkan ketegangan atmosfer.
“Alhamdulillah,” ucap Mbak Min Ah seraya menepuk dadanya.
“Hati-hati, Dik, Mbak. Memang sering terjadi penipuan kayak gini. Syukur bukan ibunya yang nerima telepon. Kalau ibunya, langsung dah dimintain uang,” jelas seorang perawat RS Manila yang sejak tadi ikut menemani Om Marun dan Mbak Min Ah.
Mbak Min Ah hanya mampu mengucap seribu kata syukur dalam hatinya. Ia sangat merasa lega atas segala ‘dusta’ yang terjadi hari itu. Meski hanya dusta, namun separuh hari itu telah dihabiskannya dengan mengkhawatirkan seorang Anila, anak yang diasuhnya selama 17 tahun yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Dan walau kepanikannya hanya menjadi cerita dari sebuah penipuan, ini menjadi sebuah pengalaman panik yang berujung dusta yang tak terlupakan baginya.

Selasa, 04 September 2012

Wants Again, Again, and Again


Wah, sudah banyak sarang laba-laba nih blogku :[

Raditya Dika gak ngeblog 15 hari aja bilang dirinya sendiri a very very bad blogger. Kalo gt gimana aku? Blogger apa namanya aku iniiii???? Mungkin gelar aku jadi “The most bad blogger in the world” hahha, maklum bukan blogger aktif :} Jadi seharusnya gausa bandingin diri sendiri sama blogger sejati kayak beliau yaa. Hehe x)

Oke, guys, pada kesempatan yang kejepit ini, aku mau nge-share sesuatu yang sebenernya udah lama mau aku share disini. Tapi, ya karena yang aku bilang tadi –aku bukan blogger aktif-, so baru kesampean nge-blog hari ini deh :)
The think that I would share is about… Beri sambutan yang meriah to THE KING 2 HEARTS!! *prokprokprokprok* SLIDE SHOW:





Kyaaaaaa… it’s really my favorite K-drama ever. Do you already watch it, gals? Hayoo, yang ngelewatin K-drama yang satu ini bakal NYESEL looo! Soalnya ini keren banget, maaaann! Aku gak akan nyeritain sinopsisnya disini, karena pasti temen-temen blogger lainnya udah banyak yang memposting sinopsisnya. Jadi aku hanya ingin membagi ke’heboh’anku atas drama yang sooo romantic ini. Sekalian promosi biar temen-temen mau nonton drama ini dan berbagi kehebohannya juga :)
Di drama yang terdiri dari 20 episode ini, temen-temen bakal mendapat banyak kejutan yang gak bisa didapetin di drama lainnya. Selain banyak kejutan, banyak juga moment-moment yang tidak mudah untuk dilupakan nih, gals. First kiss-nya jangan bayangin terjadi kayak k-drama lain. It’s different, okay :)
Awal-awal episode emang agak-sedikit biasa, tapi makin kesini Lee Seung Gi, Ha Ji Won dan beberapa pemeran lainnya berhasil merebut hatiku… Meskipun di Korea ratingnya rendah, tapi dihatiku ratingny terataaaas :D Yah, selera orang kan beda-beda. Jadi bebas berpendapat juga doong. (Asseeek…)
Dan gak kayak kebanyakan drama yang pemeran antagonisnya banyak dan berganti-ganti, di drama ini pemeran antagonisnya ‘cuma’ satu dan hanya dia yang bakal bikin kalian geregetan pingin makan pipinya! (lho, kok?!) Yup, Yoon Je Moon berhasil membuat penonton drama ini pengin nimpukin dia pake high heels! Dari awal sampe episode terakhir dia aja nih yang jadi srigala berbulu dombanya.
Tapi tenang, K-drama lovers, kalian gak bakal nyesel nonton drama yang satu ini. Bagiku ini adalah drama pertama yang bisa buat aku pengen nonton lagi, lagi, dan lagi. Selain jalan ceritanya yang gak bisa ditebak dan romantisme yang sangat bikin iri antara Lee Jae Ha dan Kim Hang Ah, OST andalannya yang berjudul Missing You Like Crazy yang dinyanyiin oleh Taeyeon SNSD juga mampu buat kamu ngais-ngais tanah! Kok heboh banget, din? Ya maaf, penonton k-drama yang baik emang seharusnya ikut menjiwai dan yang paling penting “mempromosikan” drama yang diidolakannya –tapi gak dapet honor ya, ciiin :(-
Nah, itu sedikit ke’heboh’an yang semoga bisa meluluhkan hati kalian untuk menonton drama bergenre romantic ini. Semoga bermanfaat dan kalian bisa menyebarkan The King 2 Hearts Fever kemana-mana, hihi :p
Don’t let your melody gone :]

Jumat, 20 Juli 2012

Seperti Pinang...


Annyeong :)

Ada apa dengan pict di atas?

Tapi gak mungkin aku ngemosting tanpa alasan.

Ya kan?! hehe xp

  Berawal dari kegelisahan (ilmu terapannya Raditya Dika), aku memulai postingan baru ini. Yap, karena aku sebagai penikmat K-Pop (gak fanatik sih), so aku merasa tersentil dengan keberadaan dua member SNSD yang geulis-geulis ini (yah, wlw kita tau geulisnya mereka kebanyakan gak asli :b) Mungkin sebenernya gak ada yang salah disini, cuma aku aja yang pengen ngebahas. haha :D
  Hayooo, siapa diantara kamu yang demen mandangin cewek-cewek SNSD ini?? Gak cowok, gak cewek, setidaknya pernah dong 'menoleh' girlband Korea yang exis ini... Gak tau sejak kapan pastinya aku suka merhatiin MV atau dengerin lagu-lagu girlband yang terdiri dari 9 orang ini. Nah, menurut temen-temen, ada gak sih diantara kesembilan cewek ini yang berwajah mirip, yang kalian gak bisa bedain??
  Awalnya, Seohyun dengan Yuri terlihat mirip, sangat mirip. Tapi aku bisa masih bisa bedain diantara mereka berdua. Beda dengan 2 orang ini, Hyoyeon dan Sunny. Sumpaaa, aku gak bisa bedain! Gak penting sih, gak keluar juga d SNMPTN :p. Bagi penggemar fanatik SNSD hal ini (yang aku bahas sekarang) pasti dianggap "apaan sih??", "gak penting beuut", dsb. Tapi santai... ini cuma pendapat pribadiku aja, soalnya belum ada blog yang nulis kalo mereka itu kembar (lho?!).



 
 




  Kalo gak ada keterangan, udah ketuker aja aku nyebutin nama mereka. ehehe, peace :D Bagi kamu yang bisa dengan sangat mudah bedain mereka, kasi tips biar aku bisa bedain mereka dong :) Soalnya, kan aku penggemar mereka juga nih, aku pajang deh poster mereka di belakang pintu (eeaaa xp). Tapi masalahnya, setiap mau nyebutin member mereka satu persatu, pasti aku keliru diantara dua jegeg ini. Kasian mereka, ntar iri sama yang laen. Maunya mereka jadi yang paling beda, malah jadi yang paling mirip (lho, gimana sih?!).
  Aku jadi bingung dan bertanya-tanya deh, emang tempat oplas mereka sama ya? Kok bisa percis gitu? Tinggi badannya gak beda jauh lagi. Ckckck. Kayaknya mata dan pemikiranku nih yang rada-rada :b. Tapi memang kesempurnaan hanya milik Tuhan dan kesalahan hanya milik kita-manusia. (Asseeek...). Mau mereka semirip pinang (yang dibelah dua) sekalipun, itu udah takdir Tuhan.

Kamis, 17 Mei 2012

Antara Stress dan Parasomnia...


Assalamualaikum...
(kluar alimya xp)

Dah seabad gak mosting ==’
Soalnya baru ada hal baru yang bisa aku beberkan share disini ^^
Apa itu??
Mau tau?
Jangan kemana-mana, tetap di Always Bless Me \(^o^)\ /(^o^)/

Parasomnia...
Somnambulisme...
Ada yang tau istilah-istilah ini?
Pasti temen-temen pada geleng-geleng atau berkata dalam hati “auk..ah gelap”
Atau yang otaknya bling-bling (???), langsung tau jawabannya ;)
Ya, aku lagi mau pamer soalnya aku juga baru tau dua istilah di atas. hehe :D

Jadi, gini ceritanya,
Belakangan ini kak Yudhis ‘ngungsi’ tidur di kamarku..
Di tengah malam, dia mendengar suara orang ngomel-ngomel ngga jelas. (Suaranya gak jelas+yang diomelin gak jelas).
Dan, kalian harusnya tau itu suara siapa ^oo^
Dengan PD dan bangga, aku akui.. itu suaraku. (hiks...)

Setelah diceritain sama mbak Sari, ternyata aku suka ngelindur malem-malem. Dan dalam kamus kesehatan, penyakit ini disebut dengan Parasomnia. Jadi, parasomnia itu adalah penyakit ngomel-ngomel pas lagi tidur => itu kalo pake bahasaku yang gaje. Yang serius nih, parasomnia itu mimpi yang hidup dan aktivitas fisik yang terjadi selama tidur.

Beda lagi lho sama Somnambulisme. Soalnya dia spesiesnya agak lebih mengerikan (bagiku). Somnambulisme ADALAH gangguan tidur sambil berjalan, yang merupakan ganguan perilaku yang terjadi dalam tahap mimpi dari tidur. Bayangin aja kalo orang tidur bisa sambil nyeplok telur. Hadeeh... bisa-bisa para chef gak laku lagi di restaurant. [khayalan tingkat tinggi =]

Kedua jenis penyakit ini biasanya diSEBABkan ketidakmatangan sistem saraf pusat, kelelahan berlebihan, masalah genetik, masalah emosional atau kurang tidur. Stres juga bisa jadi penyebab utamanya (Tapi, aku nggak stress, yaa :P). Penggunaan obat tertentu, demam, cedera kepala, pembengkakan otak atau tiroid selama bekerja juga dapat menjadi penyebabnya. Hati-hati juga buat temen-temen yang tidak teratur waktu tidurnya, keracunan alkohol, obat-obatan seperti obat penenang / hipnotik atau obat alergi, soalnya ini juga penyebab temen-temen bisa ‘ngrumpi’ di tengah tidur.

Tidur sambil berbicara mungkin bersifat katarsis karena merupakan cara untuk melampiaskan stress. Mending ngelampiasin stress dengan cara ini deh, daripada ngamuk-ngamuk depan orang yang nggak bersalah. Udah nggak ada yang denger, diri sendiri juga jadi lebih enteng setelah ngelindur (ngelampiasin stres yang secara tidak sadar). Tapi, jangan salaaaahhh... Soalnya ada beberapa kondisi yang membutuhkan perawatan kalo udah parah abiisss. Masak iya ada orang tidur sambil bacok-bacokan. Bah, udah gawat baget tuh penyakitnya.

So, girls and guys, don’t let your stress accumulated. Share your happy and sadness to the people you believed. And always keeping melody in our heart



Minggu, 08 April 2012

Efek Tyndall


Fenomena efek Tyndall dikemukakan oleh  John Tyndall  (1820-1893), seorang ahli fisika dari Inggris. Efek Tyndall adalah peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel koloid. John Tyndall mengamati seberkas cahaya putih yang dilewatkan pada sistem dispersi koloid. Dari pengamatan tersebut, John Tyndall melihat adanya hamburan cahaya pada partikel koloid, sehingga berkas cahaya terlihat dengan jelas. Gejala inilah yang dinamakan dengan efek Tyndall.
Susunan partikel dalam koloid menyebabkan berkas cahaya akan dihamburkan oleh partikel-partikel koloid. Menurut Lord Rayleigh, ukuran partikel dan konsentrasi partikel koloid berpengaruh terhadap intensitas hamburan cahaya. Semakin besar konsentrasi dan ukuran partikel koloid, semakin bertambah intensitas cahaya yang dihamburkan. Efek Tyndall terjadi karena partikel koloid yang berupa ion atau molekul dengan ukuran cukup besar mampu menghamburkan cahaya yang diterimanya ke segala arah, meskipun partikel koloidnya tidak tampak. Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan antara larutan, koloid, dan suspensi.
Dalam kehidupan sehari-hari, efek Tyndall dapat diamati pada peristiwa terjadinya warna biru pada langit di siang hari dan kuning kemerahan ketika matahari akan terbit atau terbenam. Udara mengandung partikel-partikel seperti gas nitrogen, gas oksigen, debu, dan zat-zat lainnya. Keberadaan partikel tersebut yang menyebabkan cahaya yang dipancarkan matahari akan dihamburkan. Cahaya matahari sebenarnya merupakan sinar tampak yang tersususn atas campuran warna dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Intensitas cahaya yang dihamburkan berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya. Semakin rendah panjang gelombang, intensitas cahaya yang dihamburkan semakin tinggi. Jika dalam udara tidak terdapat partikel koloid, maka sinar matahari tidak dihamburkan dan akan langsung menuju bumi.

Banyak ‘Produksi’, Kurangi Potensi


Ada gula, ada semut. Peribahasa ini berlaku pula pada masyarakat Indonesia. Dimana ada potensi kerja dengan penghasilan tinggi, disanalah orang-orang berkerumun memadati wilayah tersebut. Tanpa disadari mereka telah menambah kepadatan penduduk suatu daerah dengan ‘berkembang biak’ disana. Dalam hal ini tanpa mengendalikan jumlah kelahiran atau merencanakan jumlah keluarga. Ini menjadi masalah baru bagi pemerintah. Dimana tanpa program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan pemerintah, masyarakat miskin pun akan meningkat.
KB sesungguhnya merupakan program pemerintah untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk yang semakin kesini semakin melonjak. KB diupayakan untuk membatasi kelahiran dan mengendalikan pertambahan penduduk. Perencanaan jumlah kelahiran dapat dibatasi dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi. Apabila masyarakat tidak mengefektifkan penggunaan KB, maka tingkat pertumbuhan penduduk semakin lama akan semakin tak terkendali. Hal ini dikarenakan sebagian dari masyarakat masih berpedoman dengan prinsip “banyak anak, banyak rezeki”. Selain itu tak sedikit pula masyarakat yang belum memahami prinsip kerja dari program KB tersebut.
Masalah ledakan penduduk inilah yang kini dihadapi Indonesia. Meskipun Indonesia memiliki kepadatan penduduk sebesar 341 jiwa per km2, namun yang terjadi malah pemerintah tetap kewalahan menangani jumlah penduduk yang mulai tak terkendali ini. Dampak-dampak pun mulai dirasakan. Apabila banyak masyarakat berbondong-bondong ke daerah yang berpotensi, tentunya persaingan kerja di daerah tersebut akan semakin meningkat. Akibatnya banyak pengangguran di daerah-daerah yang sesungguhnya berpotensi tinggi dalam menaikkan ekonomi dalam negeri.
Untuk itu pemerintah harus lebih menegaskan program KB untuk mengendalikan angka kelahiran agar pelaksanaannya lebih efektif. Kita sebagai masyarakat yang peduli akan kehidupan dan negaranya, juga seharusnya ikut bertindak dengan mencegah perkawinan dini dan mengefektifkan program KB. Selain itu, untuk menghindari semakin banyaknya perkawinan usia muda di masyarakat, diperlukan adanya peraturan yang membatasi usia pernikahan. Pemerataan pembangunan juga menjadi solusi tepat untuk keluar dari permasalahan ini. Pemerintah juga perlu menggiatkan lagi program padat karya untuk menambah lapangan kerja di daerah-daerah yang kurang berpotensi, sehingga masyarakat tidak memadati kota-kota besar demi sebutir nasi, dan jumlah pengangguran pun dapat diatasi. (din)

Kamis, 22 Maret 2012

Bersatu untuk Yang Lebih Ringan

Berbagai masalah datang silih berganti tiada habisnya di negara tercinta kita, Indonesia. Belum selesai masalah hukum tentang Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat yang diduga melakukan tindakan korupsi, kini masalah ekonomi pun (lagi-lagi) ikut membanjiri negara ini. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Itulah yang sedang marak dibicarakan masyarakat Indonesia. Pemerintah beralasan kebijakan untuk menaikkan harga BBM dilakukan karena sudah terjadi pemakaian berlebihan atau overload yang disebabkan jumlah pembelian kendaraan bermotor yang besar pada tahun 2011, hingga akhirnya menyebabkan kelangkan BBM.
Sayangnya, kebijakan pemerintah yang rencananya akan diberlakukan pada 1 April 2012 mendatang  ini, tidak mendapat dukungan dari masyarakat. Masyarakat dari berbagai kalangan tidak setuju dengan kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Karena kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM menjadi Rp6000/liter untuk jenis premium/bensin dinilai akan memberatkan masyarakat menengah bawah. Padahal akhir tahun lalu pemerintah telah berusaha agar kenaikan harga BBM tidak terjadi dengan mengupayakan sisa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menyubsidi BBM. Namun semakin kesini, tingkat subsidi BBM di negara kita jumlahnya cenderung meningkat, sementara persediaan BBM semakin menipis. Hal inilah yang menjadi penyebab harga BBM semakin mahal dan pemerintah harus menyediakan dana subsidi yang sangat banyak.
Apabila kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM tersebut diberlakukan maka hal ini akan menambah beban dan menyengsarakan kaum buruh, pekerja, dan masyarakat. Tidak hanya itu, dengan berlakunya kenaikan harga BBM tersebut, maka harga-harga kebutuhan pokok pun akan ikut melonjak di pasaran. Diperkirakan kenaikan harga BBM tersebut akan memengaruhi daya beli masyarakat menengah bawah dalam memiliki rumah sederhana hemat (RSH) dengan kisaran harga Rp 70 juta. Sebagai kebutuhan primer, seharusnya harga rumah bisa dijangkau oleh semua kelompok masyarakat. Namun faktanya, pekerja di sektor tertentu semakin termarjinalkan dengan kebijakan pemerintah dan para pengusaha juga kurang perhatian terhadap pekerjanya. Oleh karena itulah masyarakat menolak mentah-mentah kebijakan pemerintah tersebut.
Dampak yang muncul karenanya pun tidak dapat dihindarkan. Masyarakat mulai dari mahasiswa, serikat pekerja, sampai dengan pejabat-pejabat pun mengadakan berbagai aksi penolakan seperti unjuk rasa. Di samping itu, realisasi kenaikan harga BBM akan mengakibatkan bertambahnya beban masyarakat miskin hingga 50 persen. Bantuan Langsung Tunai (BLT) pun tidak akan mampu menggantikan dampak yang terjadi akibat kenaikan harga BBM pada masyarakat miskin baik langsung maupun tidak langsung. Kenaikan BBM juga diakui memberi efek negatif terhadap pencitraan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat yang menjadi tumpuan kemarahan publik atas kenaikan harga BBM ini. Padahal kebijakan ini bukan sepenuhnya yang menjadi pilihan mereka. Tetapi juga masyarkat yang tidak bisa mengendalikan angka pembelian kendaraan bermotor.
Hal-hal di atas tentu saja dapat kita atasi apabila seluruh lapisan masyarakat bersatu dan ikut mendukung pelaksanaannya, walaupun tidak semudah berbicara dan menuliskan kata-kata. Untuk pemerintah seharusnya lebih giat dalam melakukan pemantauan ke daerah-daerah agar kepanikan masyarakat akibat naiknya harga BBM tidak terjadi. Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) juga dinilai menjadi pilihan terbaik pemerintah guna mengatasi dampak kenaikan harga BBM. BLSM ini bukan ditujukan untuk mengatasi kemiskinan tetapi untuk mengurangi kerentanan, merespon perubahan struktural akibat kenaikan BBM, dan gejolak daya beli masyarakat yang akan berubah. Untuk masyarakat diperlukan adanya penemuan pengembangan energi alternatif, agar nantinya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar mengingat potensi tersebut tersebar dibeberapa wilayah di Jawa Barat, seperti pemanfaatan tanaman Jarak dan Singkong. Juga lebih hemat dalam penggunaan BBM. Dengan terlaksananya program-program tersebut, maka pemerintah akan lebih mudah menangani masalah perekonomian, khususnya mengenai BBM. Dan bagi masyarakat akan lebih ringan menjalani kebutuhan ekonominya. (din)