Oleh: Dinda Pradnya Paramitha Paturusi
Tepat pukul 09.00 WITA, deringan telepon
salah satu kediaman Perumahan Ramai Permai no. 34 memecah kesunyian pagi itu.
“Ya, selamat pagi,” Suara bass seorang
pemuda membalas salam dari seberang telepon.
“Apa benar ini kediaman ibu Asrini?” Tanya
seorang bapak di seberang telepon.
“Ya,” jawab pemuda itu cepat.
“Benarkah ada putrinya yang bernama
Anila Kirana Devi siswa kelas XII SMA Abadi Nusantara?”
“Benar, ada apa, Pak?”
“Saya dengan Pak Made, gurunya. Anila
baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang ia masih tidak sadarkan diri di
ruang UGD Rumah Sakit Manila,”
Tidak ada jawaban. Pak Made memberikan
nomor telepon genggamnya. Pemuda itu mencatat nomor tersebut layaknya penderita
Parkinson dan segera menutup telepon.
“Dista, telepon dari siapa itu?” Tanya
Mbak Min Ah dari lantai dua pada pemuda itu.
“Dari gurunya Anila. Katanya dia
kecelakaan, sekarang lagi di UGD Rumah Sakit Manila,” kata Dista rapuh.
Mbak Min Ah adalah mbak yang mengasuh Anila
sejak usianya 6 bulan. Sudah dapat ditebak jika Mbak Min Ah yang mendengarnya
langsung lemas tak berdaya. Segala urusan rumah yang sedang dan belum
dikerjakannya segera ditinggalkan. Semua keluarga dekat Anila dihubunginya,
termasuk ibu Anila yang sedang berada dalam sebuah rapat di kantornya. Kemudian
ia bergegas mengajak Dista ke rumah sakit tersebut. Dista yang biasanya super
lelet menjadi Dista yang penuh kepanikan. Mereka pun berangkat dengan
tergesa-gesa dan penuh kepanikan.
Setibanya di area parkir RS Manila,
perasaan Mbak Min Ah semakin tak karuan saja. Tiba-tiba Om Marun, salah seorang
kerabat Anila menelepon Mbak Min Ah.
“Mbak, sudah dimana? Cepat kesini! Saya
lagi di depan ambulance,” ceroscos Om Marun yang terdengar tak kalah panik.
Mendengar kata ambulance, kaki Mbak Min
Ah seakan lumpuh. Seakan-akan kata itu menjadi palu yang memecah dunianya
menjadi butiran debu.
“Mana Anila, Om?” Tanya Dista dan Mbak
Min Ah serempak ketika mereka sudah berdiri di belakang ambulance yang dimaksud
Om Marun.
“Saya sudah tanya, nggak ada pasien kecelakaan yang namanya Anila di UGD. Coba kamu
cari ke sekolahnya, Dis!” ungkap Om Marun yang berusaha untuk tetap tenang.
Kekhawatiran Mbak Min Ah pun tampak berkurang,
meski masih dirundung ketidakpastian. Dan sekali lagi Dista bergegas menuju SMA
tempat Anila bersekolah. Setibanya di SMA Abadi Nusantara, jam pelajaran sedang
berlangsung. Dista yang kebetulan mengetahui kelas Anila meminta pada petugas
sekolah untuk memanggilkan Anila. Tak lama kemudian, muncul sosok Anila yang
berlarian menemui Dista.
“Ada apa, kak Dista? Anila lagi ngerjain soal matematika yang mau
dikumpul nih,” buru Anila yang masih ngos-ngosan.
“Yah, semua pada ke Rumah Sakit Manila, ‘pasien’nya
malah disini,” cerita Dista singkat.
“Ngapain ke Manila?”
“Tadi aku ditelepon katanya Anila kecelakaan,
terus…”
“Aduduh, nggak bener tu. Ganggu banget
deh. Udah pulang sana!” potongnya sambil berlari kembali menuju kelasnya.
Dengan raut wajah masam, Dista kembali
ke RS Manila dengan membawa kabar terkini mengenai peristiwa yang telah
berhasil membuat satu keluarga besar berada dalam kondisi terombang-ambing.
“Mana Anila, Dis?” sambut Mbak Min Ah
penasaran.
“Pasiennya lagi asik belajar tuh di
sekolah,” canda Dista mencairkan ketegangan atmosfer.
“Alhamdulillah,” ucap Mbak Min Ah seraya
menepuk dadanya.
“Hati-hati, Dik, Mbak. Memang sering
terjadi penipuan kayak gini. Syukur
bukan ibunya yang nerima telepon. Kalau ibunya, langsung dah dimintain uang,” jelas
seorang perawat RS Manila yang sejak tadi ikut menemani Om Marun dan Mbak Min
Ah.
Mbak Min Ah hanya mampu mengucap seribu
kata syukur dalam hatinya. Ia sangat merasa lega atas segala ‘dusta’ yang
terjadi hari itu. Meski hanya dusta, namun separuh hari itu telah dihabiskannya
dengan mengkhawatirkan seorang Anila, anak yang diasuhnya selama 17 tahun yang
sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Dan walau kepanikannya hanya
menjadi cerita dari sebuah penipuan, ini menjadi sebuah pengalaman panik yang
berujung dusta yang tak terlupakan baginya.