Minggu, 07 Oktober 2012

PANIK BERUJUNG DUSTA



Oleh: Dinda Pradnya Paramitha Paturusi


Tepat pukul 09.00 WITA, deringan telepon salah satu kediaman Perumahan Ramai Permai no. 34 memecah kesunyian pagi itu.
“Ya, selamat pagi,” Suara bass seorang pemuda membalas salam dari seberang telepon.
“Apa benar ini kediaman ibu Asrini?” Tanya seorang bapak di seberang telepon.
“Ya,” jawab pemuda itu cepat.
“Benarkah ada putrinya yang bernama Anila Kirana Devi siswa kelas XII SMA Abadi Nusantara?”
“Benar, ada apa, Pak?”
“Saya dengan Pak Made, gurunya. Anila baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang ia masih tidak sadarkan diri di ruang UGD Rumah Sakit Manila,”
Tidak ada jawaban. Pak Made memberikan nomor telepon genggamnya. Pemuda itu mencatat nomor tersebut layaknya penderita Parkinson dan segera menutup telepon.
“Dista, telepon dari siapa itu?” Tanya Mbak Min Ah dari lantai dua pada pemuda itu.
“Dari gurunya Anila. Katanya dia kecelakaan, sekarang lagi di UGD Rumah Sakit Manila,” kata Dista rapuh.
Mbak Min Ah adalah mbak yang mengasuh Anila sejak usianya 6 bulan. Sudah dapat ditebak jika Mbak Min Ah yang mendengarnya langsung lemas tak berdaya. Segala urusan rumah yang sedang dan belum dikerjakannya segera ditinggalkan. Semua keluarga dekat Anila dihubunginya, termasuk ibu Anila yang sedang berada dalam sebuah rapat di kantornya. Kemudian ia bergegas mengajak Dista ke rumah sakit tersebut. Dista yang biasanya super lelet menjadi Dista yang penuh kepanikan. Mereka pun berangkat dengan tergesa-gesa dan penuh kepanikan.
Setibanya di area parkir RS Manila, perasaan Mbak Min Ah semakin tak karuan saja. Tiba-tiba Om Marun, salah seorang kerabat Anila menelepon Mbak Min Ah.
“Mbak, sudah dimana? Cepat kesini! Saya lagi di depan ambulance,” ceroscos Om Marun yang terdengar tak kalah panik.
Mendengar kata ambulance, kaki Mbak Min Ah seakan lumpuh. Seakan-akan kata itu menjadi palu yang memecah dunianya menjadi butiran debu.
“Mana Anila, Om?” Tanya Dista dan Mbak Min Ah serempak ketika mereka sudah berdiri di belakang ambulance yang dimaksud Om Marun.
“Saya sudah tanya, nggak ada pasien kecelakaan yang namanya Anila di UGD. Coba kamu cari ke sekolahnya, Dis!” ungkap Om Marun yang berusaha untuk tetap tenang.
Kekhawatiran Mbak Min Ah pun tampak berkurang, meski masih dirundung ketidakpastian. Dan sekali lagi Dista bergegas menuju SMA tempat Anila bersekolah. Setibanya di SMA Abadi Nusantara, jam pelajaran sedang berlangsung. Dista yang kebetulan mengetahui kelas Anila meminta pada petugas sekolah untuk memanggilkan Anila. Tak lama kemudian, muncul sosok Anila yang berlarian menemui Dista.
“Ada apa, kak Dista? Anila lagi ngerjain soal matematika yang mau dikumpul nih,” buru Anila yang masih ngos-ngosan.
“Yah, semua pada ke Rumah Sakit Manila, ‘pasien’nya malah disini,” cerita Dista singkat.
“Ngapain ke Manila?”
“Tadi aku ditelepon katanya Anila kecelakaan, terus…”
“Aduduh, nggak bener tu. Ganggu banget deh. Udah pulang sana!” potongnya sambil berlari kembali menuju kelasnya.
Dengan raut wajah masam, Dista kembali ke RS Manila dengan membawa kabar terkini mengenai peristiwa yang telah berhasil membuat satu keluarga besar berada dalam kondisi terombang-ambing.
“Mana Anila, Dis?” sambut Mbak Min Ah penasaran.
“Pasiennya lagi asik belajar tuh di sekolah,” canda Dista mencairkan ketegangan atmosfer.
“Alhamdulillah,” ucap Mbak Min Ah seraya menepuk dadanya.
“Hati-hati, Dik, Mbak. Memang sering terjadi penipuan kayak gini. Syukur bukan ibunya yang nerima telepon. Kalau ibunya, langsung dah dimintain uang,” jelas seorang perawat RS Manila yang sejak tadi ikut menemani Om Marun dan Mbak Min Ah.
Mbak Min Ah hanya mampu mengucap seribu kata syukur dalam hatinya. Ia sangat merasa lega atas segala ‘dusta’ yang terjadi hari itu. Meski hanya dusta, namun separuh hari itu telah dihabiskannya dengan mengkhawatirkan seorang Anila, anak yang diasuhnya selama 17 tahun yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Dan walau kepanikannya hanya menjadi cerita dari sebuah penipuan, ini menjadi sebuah pengalaman panik yang berujung dusta yang tak terlupakan baginya.