Kamis, 22 Maret 2012

Satukan Hati, Pupuk Inspirasi


Setiap lapisan masyarakat sudah barang tentu akrab dengan segala hal yang berbau berita, laporan, maupun informasi-informasi yang ada disekitarnya. Dari golongan bawah hingga golongan atas tidak asing lagi dengan semua hal yang disajikan oleh pers kepada mereka. Ya, jasa pers dari dulu hingga sekarang -dan akan sampai kapanpun- selalu mampu mengambil hati masyarakat. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menjadi ketergantungan terhadapnya. Apalagi di masa seperti sekarang ini, ‘produk’ dari media massa menjadi kebutuhan pokok yang harus terpenuhi. Bagi mereka yang addict, hari tanpa berita mungkin akan seperti sayur tanpa garam. Seperti itulah pengaruh pers dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Besarnya pengaruh pers di dunia ini, tentunya sangat diharapkan masyarakat dapat seimbang dengan apa yang mereka butuhkan. Pers yang menginspirasi. Tentunya hal ini menjadi harapan utama para news addict. Dalam hal ini, menginspirasi adalah kemampuan pers ataupun jurnalis dalam membuka pikiran, memberi petunjuk, membangun karakter yang positif, atau dengan kata lain sebagai pencerah serta pedoman dalam melakukan suatu usaha di berbagai bidang kehidupan di masyarakat. Seperti Tirto Adhi Surjo, salah satu jurnalis yang mampu menginspirasi kita dan bangsa ini. Beliau mampu mengobarkan semangat nasionalisme dan menyatukan Indonesia dalam satu kesadaran bersama hanya dengan melalui surat kabar. Jurnalis seperti beliaulah yang sangat dinanti-nanti oleh masyarakat. Namun dari sekian juta jurnalis atau pers yang ada di dunia, tidak semua mampu memberikan inspirasi pada masyarakat. Mungkin pers yang benar-benar menginspirasi masyarakat sulit untuk ditemukan disisa-sisa peradaban ini.
Dinamika pemberitaan yang sarat kepentingan itu sesungguhnya akan membuat para pembaca, pemirsa, maupun pendengar makin dewasa. Sayangnya, tingginya harapan masyarakat atau proses pendewasaan tersebut mungkin akan sebanding dengan banyaknya pers yang belum mengerti atau memang tidak mengetahui tujuan pers sejatinya, yaitu menginspirasi masyarakat, selain dari memberi informasi, edukasi, hiburan, serta advokasi atau pembelaan terhadap masyarakat yang tertindas. Selain itu, banyak pers zaman sekarang yang lebih sering memihak dan memprovokasi. Seperti pemberitaan, laporan, maupun talkshow yang disajikan oleh dua stasiun televisi swasta, yang biasa disebut TV Merah dan TV biru. Pemilik dari keduanya adalah dua orang tokoh nasional yang berada pada dua lembaga yang berbeda pula. Sehingga disini pers dibatasi oleh instansi yang berbeda, yang pada akhirnya memaksa pers memihak pada instansi yang menaungi mereka. Tak sedikit pula jurnalis atau pers yang ‘belum jadi’ tetapi sudah turun dalam dunia pemberitaan. Padahal sebagian dari mereka belum mendapatkan pendidikan jurnalistik yang menjadi dasar dari jiwa pers yang sesungguhnya. Beberapa hal inilah yang menjadi penyebab dari belum maksimalnya pers dalam memberikan inspirasi pada masyarakat.
Hingga muncullah dampak-dampak yang para jurnalis dan pers sendirilah yang merasakan nantinya. Dengan berdiri di bawah naungan instansi yang pada akhirnya memaksa pers menjadi sekelompok provokator, tentunya hal ini akan menjatuhkan nama baik pers dalam segi memberi inspirasi pada masyarakat. Masyarakat akan berpandangan bahwa pers tidaklah memberi pencerahan atau membangun karakter yang positif, melainkan merusak bahkan mengacaukan rasa nasionalisme. Seperti pers yang terpecah hanya karena berada di bawah naungan instansi yang berbeda, mereka akan saling menimpali dan tidak saling mendukung. Dari sana sudah mulai terjadi penyimpangan terhadap tujuan pers sejatinya. Pers pun akhirnya tidak mampu memenuhi tujuan pers yang sesungguhnya sangatlah mulia. Di samping itu, akibat dari jurnalis atau pers ‘setengah matang’ yang terjun dalam dunia pemberitaan tanpa adanya penguasaan ilmu dasar adalah akan melahirkan jurnalis yang asal-asalan. Seperti seseorang yang baru akan menekuni bidang jurnalistik, namun sudah diberikan mandat untuk meliput suatu berita. Seorang pers atau jurnalis yang sesungguhnya adalah mereka yang telah memahami ilmu-ilmiu dasar jurnalistik dan menerapkan tujuan pers dalam menggali, meliput, maupun menyajikan berita. Oleh karena itu, orang yang baru akan menekuni bidang jurnalistik tersebut belum bisa dibilang sebagai seorang jurnalis. Dan dengan menjamurnya orang-orang seperti itu, tentu pada akhirnya lagi-lagi akan merusak nama baik pers.
Namun, seluruh ‘penganut’ jurnalis di dunia ini tentu tidak akan duduk manis dan berpangku tangan melihat lalu-lalangnya masalah di depan mata mereka. Sebagai pers yang baik, mereka akan turun tangan dan mengambil langkah tegak maju untuk menyerang segala ‘gulma’ pers yang ada. Oleh karena itu diperlukan dalam diri jurnalis, prinsip pers yang kokoh dan tegas. Secara otomatis hal ini akan menumbuhkembangkan rasa ingin menginspirasi masyarakat. Menyatukan niat, bakat, jiwa, dan hati sebagai jurnalis sejati juga menjadi satu kekuatan besar dalam menjaga keutuhan pers. Dan sebaiknya lebih gencar diadakan pelatihan dan pengajaran mengenai ilmu dasar jurnalistik untuk para pemula. Percayalah bahwa Tuhan itu mahaadil. Jika Ia memberi cobaan tentu Ia juga akan menganugerahkan jalan keluar pada kita semua. Dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia. Hidup pers!