Judul : Marmut Merah Jambu
Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Bukune
Cetakan : Jakarta, 2010
Tebal : 222 halaman, 13 x 20 cm
Harga : Rp 39.500,00
Jika kalian terfikir dapat tertawa terbahak-bahak dengan perut kaku sampai guling-guling, hal itu tidak akan kalian temukan dalam novel ini, karena 13 chapter dalam novel ini secara garis besar membahas tentang cinta. Semua tentang pengalaman cinta Raditya Dika, mulai dari indahnya saat-saat PDKT, cinta yang diam-diam, saat cinta ditolak, bahkan ada juga chapter tentang naksir seorang teman chatting dalam chapter Cinta diatas Sepotong Chatting. Meski berkaitan dengan cinta, bukan berarti penulis muda yang terkenal dengan novel-novelnya yang bertema komedi ini sudah kehilangan sense of humor-nya lho. Jatuh cinta, patah hati, dan penuh pengharapan dalam kisah cintanya ditulis dengan gaya komedinya.
Novel ini adalah novel kelima dari Raditya Dika setelah Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Radikus Makan Kakus, dan Babi Ngesot. Namun, novel yang resmi ada di toko buku seluruh Indonesia pada tanggal 1 Juni 2010 ini berbeda dari novel sebelumnya, kata-katanya tidak se-‘brantakan’ Kambing Jantan atau se-‘kasar’ Babi Ngesot, melainkan memiliki komedi yang lebih halus dan lebih ‘dalam’.
Dari segi redaksional, novel yang berisi tentang diri penulisnya sendiri ini secara keseluruhan cukup menarik, dan pembahasan tentang cintanya sangat menyentuh, terutama orang yang jatuh cinta diam-diam yang mencintai seseorang tapi malu untuk mengungkapkannya. Tentu hal tersebut pernah dirasakan oleh hampir setiap orang. Gaya bahasa dan penggunaan kata yang digunakan juga sangat menyentuh. Alurnya pun mudah diikuti. Novel “Marmut Merah Jambu” ini mampu membuat pembacanya seperti benar-benar menyaksikan langsung adegan-adegan yang diceritakan. Pembacanya bahkan dapat merasakan bagaimana pedihnya patah hati saat membaca cerita tentang Raditya Dika yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Di novel yang dibandrol dengan harga yang cukup mahal untuk kategori PELIT (personal literature) untuk pelajar atau mahasiswa yang uang sakunya pas-pasan ini Dika, panggilan akrab dari si penulis masih dengan ciri khasnya, berhasil meramu kebodohan-kebodohannya itu menjadi suatu cerita yang lucu. Ia juga berhasil menggabungkan antara sakit hati dengan komedi yang belum tentu penulis lain dapat melakukannya.
Dari sisi artistik, cover hasil design Mayumi Haryoto ini lebih terang dan cerah dibanding dengan novel sebelumnya, dan terdapat efek timbulan yang memberi kesan unik dan menarik. Selain itu, cover novel setebal 222 halaman ini cukup tebal dan kedap air. Font dan ukuran tulisan yang digunakan juga nyaman untuk dibaca dan terlihat jelas. Tak lupa dengan pembatas bukunya yang pada cetakan pertama berbentuk kaos dan cetakan kedua berbentuk marmut.
Walaupun mudah untuk menemukan kelebihan dari novel berukuran 13 x 20 cm ini, namun novel terbitan Bukune ini juga tak luput dari kekurangan. Pada chapter Balada Sunatan Edgar misalnya. Di chapter ini ceritanya terlalu panjang dan bertele-tele untuk menyampaikan ide utamanya. Sehingga muncul kesan seperti sinetron dan kurang mencapai klimaks. Selain itu, ada beberapa kalimat rancu dalam novel ini. Penggunaan kata dengan penempatan yang kurang tepat terdapat pada kalimat akhir di halaman 15, yaitu “Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya kita butuhkan”. Penggunaan kalimat yang lebih tepat adalah “Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang sesungguhnya tidak kita butuhkan”.
Masih di halaman yang sama, ada penggunaan kata dalam kalimat yang kurang tepat dan kurang lengkap, yaitu “Orang yang jatuh diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian”. Disini penggunaan yang lebih tepat adalah “Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa seperti yang selalu mereka lakukan, jatuh cinta sendirian”.
Di balik kelebihan dan kekurangannya, kita dapat mengambil amanat dan hikmah yang diberikan di novel ini. Menertawakan kesalahan maupun kekurangan yang kita miliki bukan berarti tidak tahu diri atau tidak punya malu. Karena ketika suatu saat kita tidak sengaja membuat kesalahan, jangan hanya menyalahkan diri sendiri, namun hal tersebut dapat menjadi pelajaran untuk lebih baik lagi, dan dapat kita ungkapkan melalui tulisan ataupun curhatan. Satu kalimat yang sangat menyentuh dari novel Raditya Dika ini adalah “Jika cinta bisa membuat tahi jadi rasa cokelat, cinta yang tak terbalas bisa membuat cokelat jadi rasa tahi”.
