Rabu, 17 Agustus 2011

reSENSI


Judul              : Winter in Tokyo
Penulis            : Ilana Tan
Penerbit         : Gramedia
Cetakan          : Jakarta, 2009
Tebal               : 320 halaman, 13,5 x 20 cm
Harga             : Rp 42.000,00

Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Ishida Keiko yang selalu menunggu cinta pertamanya -13 tahun silam-. Suatu hari ia kehadiran tetangga baru, Nishimura Kazuto yang dapat dengan cepat akrab dengannya. Pertemuan pertama mereka adalah di awal musim dingin di Tokyo. Selama sebulan bersama, perasaan baru pun terbentuk. Dan suatu ketika ia bertemu dengan cinta pertamanya, Kitano Akira. Kemudian, setelah salah satu dari mereka terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir, termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya, sebuah rahasia besar terungkap. Novel “Winter in Tokyo” buah karya Ilana Tan ini membuktikan bahwa  cinta itu buta dan tidak dapat diduga.
Dari sisi redaksional, novel fiksi ini sangat cocok untuk remaja, karena selain menambah wawasan tentang kata-kata umum dalam bahasa Jepang, novel yang diterbitkan oleh Gramedia ini juga mampu membangkitkan imajinasi atas apa yang terjadi di dalam cerita. Novel seharga Rp 42.000,00 ini sangat bagus dan menarik, baik dari segi konflik ceritanya yang tidak berlebihan, bahasanya yang mudah dimengerti, maupun dengan kata-katanya yang dirangkum secara sopan dan mudah dipahami. Dari sisi artistik, novel setebal 320 halaman ini memiliki cover yang kedap air dan sangat menarik dengan membawa kesan romantis. Selain itu, font dan ukuran tulisan yang digunakan juga terlihat jelas.
Meski tampak sempurna, namun sama halnya dengan manusia yang tak ada yang sempurna, novel cetakan Jakarta, 2009 ini juga memiliki kekurangan. Salah satu kekurangannya yaitu dari beberapa kata yang masih menggunakan bahasa yang tidak baku atau kurang baik dan masih ada beberapa kata yang menggunakan bahasa puitis yang terlalu berlebihan, sehingga mengganggu pembaca untuk memahami isinya. Kertas yang digunakan pada isi novel berukuran 13,5 x 20 cm ini juga mudah robek dan lecet. Walau sepele, tapi bagi kolektor novel tentu ini sangat mengganggu. Selain itu, terdapat kesalahan dalam pengetikan, halaman setelah prolog seharusnya dimulai dengan halaman 1, tetapi yang tertera adalah halaman 9.
Di balik kekurangan-kekurangannyanya tersebut, novel ini menyadarkan kita bahwa hidup ini tentu sangat sepi dan membosankan bila tak ada cinta dan orang yang kita cintai. Dan penulis berpesan, bahwa kata hati tak dapat berbohong, walau lupa ingatan sekalipun, kata hati pasti mengetahui apa dan siapa yang ada di hati kita sebelum hilangnya ingatan itu.