Rabu, 17 Agustus 2011

Cerpen

Sebuah anugerah terindah bagi Nesia menjadi salah satu dari jutaan anak yang lahir di Bali. 11 Januari 1995, adalah hari kelahiran Nesia yang merupakan putri bungsu dari dua bersaudara. Dia dan saudara laki-lakinya hanya terbentang tiga tahun. Hal itulah yang menyebabkan ia sangat akrab dengan kakaknya. Sejak lahir Nesia dan kakaknya menetap di pulau yang dikenal dengan keindahan alamnya ini. Hanya saja, karena kedua orang tuanya harus melanjutkan kuliah di Bandung, mereka harus pindah sementara ke Bandung selama kurang lebih dua tahun. Saat itu kakak Nesia baru memasuki TK, sementara Nesia masih berumur 2 tahun.
Dua tahun kemudian, Nesia dan keluarganya kembali ke tempat tinggalnya, di sebuah perkampungan, di Bali. Nesia sangat merindukan tempat kelahirannya itu. Baginya Bali adalah tempat dimana ia bisa mendapat kenyamanan dan kedamaian, karena orang-orang Bali yang mudah bergaul, ramah, dan cinta damai. Hari-harinya di Bali selalu ditemani oleh kakaknya. Mereka selalu bermain bersama. Kemanapun kakaknya pergi, ia selalu membuntuti kakaknya. Segala permainan anak laki-laki pun telah ia geluti. Hingga semua teman kakaknya menjadi sahabat baiknya. “Ayok kita main sepak bola!” seru Nesia kerap kali mereka terdiam memikirkan permainan apa yang akan mereka mainkan selanjutnya.
Tempat favorit Nesia adalah sawah. Waktu ia kecil, sawah di Bali sangatlah mudah untuk ditemukan. Hampir disetiap kiri-kanan jalan dapat ditemui sawah yang masih lapang. Biasanya setiap sore ia, kakak, dan sahabat-sahabatnya menanti ibu Nesia pergi ke sawah untuk mencari kangkung untuk makanan kelinci peliharaan Nesia. Maklum, kelinci peliharaan Nesia tidak kurang dari 5 ekor, jadi diperlukan biaya yang lebih jika harus membeli sayur yang juga kesukaan Nesia tersebut di warung. Nesia sangat senang berada di sawah. “Di sawah itu kita bisa menikmati keindahan alam semesta ciptaan Sang Penguasa dan kita bisa menghirup udara segar,” jelas Nesia yang masih menginjak kelas 3 SD dengan lancar. Tiba-tiba ia bersorak, “Kak, itu ada ikan!” teriak Nesia pada kakaknya sambil menunjuk salah satu parit di tengah sawah. Dengan segera mereka menyerbu ikan-ikan di parit. Dan jangan salah, mereka sudah mempersiapkan perlengkapan untuk menangkap ikan-ikan yang malang tersebut dengan alat-alat seperti saringan, baskom, kantong plastik, dan ember dari rumah. Demi seekor ikan kecil di parit, mereka rela beradu dengan lumpur-lumpur di sawah. Di saat-saat seperti ini, tali persaudaraan sangatlah terasa di tengah-tengah mereka.
Seperti itulah keseharian mereka, anak-anak Bali. Pagi berangkat ke sekolah, siang bermain berjemur matahari, sore memburu ikan di sawah, dan malam mereka tertidur lelap dan membawa semua peristiwa hari itu dalam mimpi. Hari-hari yang penuh warna telah mereka lewati dengan tawa dan canda. Disini. Di Bali yang indah ini. Hingga tak terasa mereka telah beranjak remaja…
Bersambung…